Rabu, 17 Maret 2010
Kamis, 11 Maret 2010
MENGATASI KERUSAKAN REMOT TELEVISI
MENGATASI KERUSAKAN PADA REMOT TELEVISI
Barangkali kita sering menemui Remote control yang tidak berfungsi/tidak dapat dipakai. kadang nyebelin.
PENYEBABNYA ADALAH .....
1. adalah bukan remote controlnya yang rusak, tapi sensor di perangkat (TV/VCD/Compo dll). pertanyaanya tentu bagaiamana kita dapat menentukan yang rusak remotenya atau perangkat? bila ada perangkat/remote yang lain yang sejenis mungkin kita dapat mencobanya. Tapi bila tidak ada perangkat atau remote lain yang bisa digunakan untuk mencoba bagaimana? tenang…. ada sedikit tips. Remote control dapat dites berfungsi atau tidak dengan menggunakan radio AM/MW. coba nyalakan radio pada gelombang MW/AM, kemudian pencet-pencet tombol di remote sambil di dekatkan ke radio tadi. apabila di radio terdengar bunyi “tut” saat tombol di pencet, berati tombol/remote kontrol berfungsi, berarti kerusakan terjadi pada perangkat bukan pada remotenya.
2. adalah batre remote habis . apabila hasil pengujian menggunakan radio didapatkan diagnosa remote kontrol yang rusak,hal pertama yang harus dilakukan adalah,pastikan batre remote kontrol baik/belum habis. banyak keluhan remote kontrol rusak hanya disebabkan karena batrenya yang habis. untuk itu,sebelum dilakukan pembongkaran remote, ada baiknya batre diganti dengan yang baru.
3. adalah terminal batre yang berkarat. ini bisa diakibatkan karena batre terlalu lama terpasang dan lembab/rusak sehingga mengakibatkan terminal batre berkarat. bila ini terjadi, tentu arus dari batre tidak dapat menyuplai tegangan kerja ke komponen aktif remote control,dan remote tidak dapat bekerja.
4. adalah papan PCB kotor atau lembab. ini dapat dilihat hanya bila remote control sudah dibongkar. hal yang dapat dilakukan adalah melakukan pembersihan papan PCB dari kotoran.
5. adalah karbon aus/tipis. biasanya remote control, pada tombolnya dibagian bawah(sisi yang kontak dengan PCB) dilapisi karbon. apabila karbon ini habis/menipis maka tombol tidak bisa berfungsi. apabila karbon sudah habis/tipis dapat diganti dengan lapisan almunium voil yang terdapat pada bungkus rokok. atau dapat juga diganti dengan lapisan karbon yang baru(caranya dengan dilapisi karbon cair yang sudah beredar dipasaran.karbon cair ini akan mengering setelah beberapa menit dilapskan ke tombol)
6. adalah led infra merah rusak. Apabila Led ini rusak, tentu data/perintah dari remote ini tidak dapat dipancarkan ke perangkat yang akan kita kontrol.
7. adalah komponen CF yang rusak. komponen ini adalah sebagai pembangkit frequensi pembawa data/perintah dari remote Control. apabila komponen ini rusak, tentu tidak akan ada data yang bisa terkirim ke perangkat yang kita kontrol. komponen ini biasanya berbentuk kotak kadang berkaki 2 ada juga yang berkaki 3. komponen CF biasanya berwarna biru/hitam/kuning/orange.
8. adalah Casing remote yang pecah, sehingga tombol yang kita pencet tidak pas pada tombol di PCB. tentu ini akan menyebabkan tidak adanya data/perintah yang kita masukkan ke remote Control.
9. adalah jalur PCB yang rusak. Ini akan mengakibatkantidak berfungsinya remote kontrol. Hal yang dapat dilakukan adalah melakukan/penyambungan atau perbaikan jalur pada PCB.
10. adalah kerusakan komponen aktif pada remote(transistor/IC) bila yang rusak cuma transistor mungkin bisa kita ganti dengan komponen sejenis dan se type yang ada di pasaran. Namun bila yang rusak adalah IC, biasanya sudah dapat diperbaiki.
11. adalah rusaknya komponen pasif (resistor/condensator) kerusakan jenis ini jarang sekali terjadi pada remote Control.
demikian sekilas tentang remote Control.
semoga bermanfaat.
Barangkali kita sering menemui Remote control yang tidak berfungsi/tidak dapat dipakai. kadang nyebelin.
PENYEBABNYA ADALAH .....
1. adalah bukan remote controlnya yang rusak, tapi sensor di perangkat (TV/VCD/Compo dll). pertanyaanya tentu bagaiamana kita dapat menentukan yang rusak remotenya atau perangkat? bila ada perangkat/remote yang lain yang sejenis mungkin kita dapat mencobanya. Tapi bila tidak ada perangkat atau remote lain yang bisa digunakan untuk mencoba bagaimana? tenang…. ada sedikit tips. Remote control dapat dites berfungsi atau tidak dengan menggunakan radio AM/MW. coba nyalakan radio pada gelombang MW/AM, kemudian pencet-pencet tombol di remote sambil di dekatkan ke radio tadi. apabila di radio terdengar bunyi “tut” saat tombol di pencet, berati tombol/remote kontrol berfungsi, berarti kerusakan terjadi pada perangkat bukan pada remotenya.
2. adalah batre remote habis . apabila hasil pengujian menggunakan radio didapatkan diagnosa remote kontrol yang rusak,hal pertama yang harus dilakukan adalah,pastikan batre remote kontrol baik/belum habis. banyak keluhan remote kontrol rusak hanya disebabkan karena batrenya yang habis. untuk itu,sebelum dilakukan pembongkaran remote, ada baiknya batre diganti dengan yang baru.
3. adalah terminal batre yang berkarat. ini bisa diakibatkan karena batre terlalu lama terpasang dan lembab/rusak sehingga mengakibatkan terminal batre berkarat. bila ini terjadi, tentu arus dari batre tidak dapat menyuplai tegangan kerja ke komponen aktif remote control,dan remote tidak dapat bekerja.
4. adalah papan PCB kotor atau lembab. ini dapat dilihat hanya bila remote control sudah dibongkar. hal yang dapat dilakukan adalah melakukan pembersihan papan PCB dari kotoran.
5. adalah karbon aus/tipis. biasanya remote control, pada tombolnya dibagian bawah(sisi yang kontak dengan PCB) dilapisi karbon. apabila karbon ini habis/menipis maka tombol tidak bisa berfungsi. apabila karbon sudah habis/tipis dapat diganti dengan lapisan almunium voil yang terdapat pada bungkus rokok. atau dapat juga diganti dengan lapisan karbon yang baru(caranya dengan dilapisi karbon cair yang sudah beredar dipasaran.karbon cair ini akan mengering setelah beberapa menit dilapskan ke tombol)
6. adalah led infra merah rusak. Apabila Led ini rusak, tentu data/perintah dari remote ini tidak dapat dipancarkan ke perangkat yang akan kita kontrol.
7. adalah komponen CF yang rusak. komponen ini adalah sebagai pembangkit frequensi pembawa data/perintah dari remote Control. apabila komponen ini rusak, tentu tidak akan ada data yang bisa terkirim ke perangkat yang kita kontrol. komponen ini biasanya berbentuk kotak kadang berkaki 2 ada juga yang berkaki 3. komponen CF biasanya berwarna biru/hitam/kuning/orange.
8. adalah Casing remote yang pecah, sehingga tombol yang kita pencet tidak pas pada tombol di PCB. tentu ini akan menyebabkan tidak adanya data/perintah yang kita masukkan ke remote Control.
9. adalah jalur PCB yang rusak. Ini akan mengakibatkantidak berfungsinya remote kontrol. Hal yang dapat dilakukan adalah melakukan/penyambungan atau perbaikan jalur pada PCB.
10. adalah kerusakan komponen aktif pada remote(transistor/IC) bila yang rusak cuma transistor mungkin bisa kita ganti dengan komponen sejenis dan se type yang ada di pasaran. Namun bila yang rusak adalah IC, biasanya sudah dapat diperbaiki.
11. adalah rusaknya komponen pasif (resistor/condensator) kerusakan jenis ini jarang sekali terjadi pada remote Control.
demikian sekilas tentang remote Control.
semoga bermanfaat.
MENU SERVISE TELEVISI
MENU SERVIS TELEVISI
Sekarang hampir semua merk tv menggunakan media remote control untuk mengakses menu servis,baik untuk menyetel ukuran gambar,mengkalibrasi IF ataupun RGB,ataupun untuk menyetting suara dan yang lainnya.Namun untuk setiap merk TV menggunakan kode-kode yang berbeda untuk membuka menu-menu tersebut.
1.TV polytron
a. Dalam keadaan standby,tekan menu di remote beberapa detik sampai televisi menyala dan meminta kode akses
b. tekan kode 1013 atau 1014 untuk dapat membuka menu-menu service yang tersedia
c. Gunakan tombol CH UP dan CH DOWN di remote untuk mengganti kriteria atau gunakan tombol VOL UP atau VOL DOWN di remote untuk mengurangi atau menambah kan.
2. Kode servis TV AKIRA
a. Pada saat TV menyala,tekan tombol AV di remote
b. Lalu tekan tombol Menu,Qview dan mute maka akan keluar menu-menu servis di layar.
c. Gunakan tombol Timer untuk mengganti menu dan tombol VOL UP dan Vol DOWN untuk menambah dan mengurangi.
3. TOSHIBA
TEKAN MUTE DI REMOTE SEKALI,KEMUDIAN TEKAN LAGI DAN TAHAN MUTE + MENU DI TV .ULANGI UNTUK PROSES BERIKUTNYA
TEKAN MENU DIREMOTE-TEKAN ANGKA 4,7,2,5
TEKAN VOL(-) DI TV -TEKAN DAN TAHAN ANGKA 9
4. SANYO : MENU DI REMOTE + VOLUME UP TV
5. LG FLATRO N:
TEKAN OK DIREMOTE + OK DI TV atau MENU REMOTE + MENU DI TV
6. TCL
TEKAN DISPLAY (OSD) DIREMOTE + VOLUME DOWN DI TV ,tahan 3 detik
7. POLYTRON
POSISI TV STNDBY, TEKAN DAN TAHAN MENU DI REMOTE HINGGA TV MENYALA MASUKAN KODE ANGKA 1013.
8. PANASONIC
SHORT (KONEK SESAAT) PIN ‘FA-1′ KE ‘FA-2′ ATAU TP-8 KE GROUND
9. PANASONIC TX SERIES : TEKAN VOL(-) DI TV + OSD
10. SHARP
SHORT KAKI (PIN)6 DAN PIN 7 SESAAT PADA IC MCU (TDA 98XXX).UNTUK KELUAR SHORTKAN KEMBALI
11. SHARP EXPRESSION
HUBUNGKAN ATAU JEPIT DUA KAWAT /JUMPER J800 ( ADA DISEBELAH TUNER ) YG PCB- TELAH DISEDIAKAN LUBANG DAN DUA JUMPER SEJAJAR.
12. CRYSTAL
POSISI TV STNDBY,TEKAN VOLUME UP + VOLIME DOWN PADA TV BERSAMAAN DAN TAHAN HINGA TV ON
13. PHILLIPS : POSISI TV STNDBY,TEKAN 0,6,2,5,9,MENU
14. AKARI : TEKAN SLEEP DI REMOTE + MENU TV
15. SAMSUNG
POSISI STANDBY TEKAN DI REMOTE : MENU – PSTD – MUTE – POWER ON
16. SAMSUNG PLANO
POSISI STANDBY, TEKAN DI REMOTE : DISPLAY-MENU-MUTE-POWER ON
17. SAMSUNG PLANO DIGITAL HD100
STANDBY-DISPLAY-MENU-MUTE-POWER
ATAU : STANDBY-MUTE-1-8-2-POWER ON
18. AKIRA, FUJITEC, BOOMBA
DAN BEBERAPA MEREK CHINA YANG LAINNYA YG MENGGUNAKAN IC PROGRAM TYPE LC8632XX SERIES : TEKAN MENU DI REMOTE DUAKALI – RECALL (Q.VIEW) – MUTE.
19. TV CHINALAINNYA ( KCL,MITOCHIBA,BAZZOMBA)
TEKAN VOLUME DI TV HINGGA NOL.TEKAN RECCAL DI REMOTE SEKALI, TEKAN DAN TAHAN VOLUME ( – ) DI TV BERSAMAAN DENGAN TEKAN KEMBALI RECALL DI REMOTE..ulang proses tersebut untuk masuk ke sub menu selanjutnya sampai ke posisi keluar menu servis.
20. AIWA
TOMBOL MENU SERVISNYA ADA DI DALAM REMOTE DI ATAS TOMBOL VOLUME (+),BONGKAR DAHULU.
21. JVC
TEKAN DAN TAHAN BERSAMAAN OSD+MUTE ATAU TEKAN DAN TAHAN OSD+PICTURE
22. HITACH
TEKAN DAN TAHAN TOMBOL AVDI TV, HIDUPKAN POWER SWITCH TV
23. SONY : STANDBY- OSD – 5 – VOL(-) – POWER ON
24. RCA/THOMSON :
TEKAN DAN TAHAN TOMBOL VT DI TV + POWER SWITCH ON TV
Sekarang hampir semua merk tv menggunakan media remote control untuk mengakses menu servis,baik untuk menyetel ukuran gambar,mengkalibrasi IF ataupun RGB,ataupun untuk menyetting suara dan yang lainnya.Namun untuk setiap merk TV menggunakan kode-kode yang berbeda untuk membuka menu-menu tersebut.
1.TV polytron
a. Dalam keadaan standby,tekan menu di remote beberapa detik sampai televisi menyala dan meminta kode akses
b. tekan kode 1013 atau 1014 untuk dapat membuka menu-menu service yang tersedia
c. Gunakan tombol CH UP dan CH DOWN di remote untuk mengganti kriteria atau gunakan tombol VOL UP atau VOL DOWN di remote untuk mengurangi atau menambah kan.
2. Kode servis TV AKIRA
a. Pada saat TV menyala,tekan tombol AV di remote
b. Lalu tekan tombol Menu,Qview dan mute maka akan keluar menu-menu servis di layar.
c. Gunakan tombol Timer untuk mengganti menu dan tombol VOL UP dan Vol DOWN untuk menambah dan mengurangi.
3. TOSHIBA
TEKAN MUTE DI REMOTE SEKALI,KEMUDIAN TEKAN LAGI DAN TAHAN MUTE + MENU DI TV .ULANGI UNTUK PROSES BERIKUTNYA
TEKAN MENU DIREMOTE-TEKAN ANGKA 4,7,2,5
TEKAN VOL(-) DI TV -TEKAN DAN TAHAN ANGKA 9
4. SANYO : MENU DI REMOTE + VOLUME UP TV
5. LG FLATRO N:
TEKAN OK DIREMOTE + OK DI TV atau MENU REMOTE + MENU DI TV
6. TCL
TEKAN DISPLAY (OSD) DIREMOTE + VOLUME DOWN DI TV ,tahan 3 detik
7. POLYTRON
POSISI TV STNDBY, TEKAN DAN TAHAN MENU DI REMOTE HINGGA TV MENYALA MASUKAN KODE ANGKA 1013.
8. PANASONIC
SHORT (KONEK SESAAT) PIN ‘FA-1′ KE ‘FA-2′ ATAU TP-8 KE GROUND
9. PANASONIC TX SERIES : TEKAN VOL(-) DI TV + OSD
10. SHARP
SHORT KAKI (PIN)6 DAN PIN 7 SESAAT PADA IC MCU (TDA 98XXX).UNTUK KELUAR SHORTKAN KEMBALI
11. SHARP EXPRESSION
HUBUNGKAN ATAU JEPIT DUA KAWAT /JUMPER J800 ( ADA DISEBELAH TUNER ) YG PCB- TELAH DISEDIAKAN LUBANG DAN DUA JUMPER SEJAJAR.
12. CRYSTAL
POSISI TV STNDBY,TEKAN VOLUME UP + VOLIME DOWN PADA TV BERSAMAAN DAN TAHAN HINGA TV ON
13. PHILLIPS : POSISI TV STNDBY,TEKAN 0,6,2,5,9,MENU
14. AKARI : TEKAN SLEEP DI REMOTE + MENU TV
15. SAMSUNG
POSISI STANDBY TEKAN DI REMOTE : MENU – PSTD – MUTE – POWER ON
16. SAMSUNG PLANO
POSISI STANDBY, TEKAN DI REMOTE : DISPLAY-MENU-MUTE-POWER ON
17. SAMSUNG PLANO DIGITAL HD100
STANDBY-DISPLAY-MENU-MUTE-POWER
ATAU : STANDBY-MUTE-1-8-2-POWER ON
18. AKIRA, FUJITEC, BOOMBA
DAN BEBERAPA MEREK CHINA YANG LAINNYA YG MENGGUNAKAN IC PROGRAM TYPE LC8632XX SERIES : TEKAN MENU DI REMOTE DUAKALI – RECALL (Q.VIEW) – MUTE.
19. TV CHINALAINNYA ( KCL,MITOCHIBA,BAZZOMBA)
TEKAN VOLUME DI TV HINGGA NOL.TEKAN RECCAL DI REMOTE SEKALI, TEKAN DAN TAHAN VOLUME ( – ) DI TV BERSAMAAN DENGAN TEKAN KEMBALI RECALL DI REMOTE..ulang proses tersebut untuk masuk ke sub menu selanjutnya sampai ke posisi keluar menu servis.
20. AIWA
TOMBOL MENU SERVISNYA ADA DI DALAM REMOTE DI ATAS TOMBOL VOLUME (+),BONGKAR DAHULU.
21. JVC
TEKAN DAN TAHAN BERSAMAAN OSD+MUTE ATAU TEKAN DAN TAHAN OSD+PICTURE
22. HITACH
TEKAN DAN TAHAN TOMBOL AVDI TV, HIDUPKAN POWER SWITCH TV
23. SONY : STANDBY- OSD – 5 – VOL(-) – POWER ON
24. RCA/THOMSON :
TEKAN DAN TAHAN TOMBOL VT DI TV + POWER SWITCH ON TV
Jumat, 04 Desember 2009
ARTIKEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Peningkatan Kompetensi Mengatasi Masalah Power Suply Tegangan Rendah
dengan Pendekatan Problem Based Learning melalui Media Flowchart
bagi Siswa Kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus
Tahun Pelajaran 2008/2009.
Oleh: Supriyadi*)
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah 37 siswa. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan tes hasil belajar, kemudian dianalisis dengan metode analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan problem base learning melalui media flowchart: 1)meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, 2) meningkatkan kompetensi siswa balam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah, 3) mendapat respon yang positif dari siswa karena pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Kata-kata kunci: kompetensi, problem base learning, media flowchart
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada pelaksanaanya pembelajaran praktek mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah yang umum dilakukan guru adalah diskusi informasi dan pendekatan praktek atau penugasan. Pendekatan diskusi informasi yang sering dilakukan guru adalah melalui komunikasi satu arah yang lebih banyak menerima informasi dari guru dari pada berusaha sendiri. Dengan demikian peran siswa dalam pembelajaran kurang aktif dan kurang mendapatkan pengalaman yang bermakna dan timbul beberapa masalah bahwa tidak semua siswa yang mengikuti pembelajaran menguasai kompetensi yang diajarkan.
Pada kenyataannya kegiatan praktek atau penugasan tersebut hanya mampu memberikan data-data yang sangat terbatas. Hal ini terjadi karena: (1) siswa pada umumnya mengalami kesulitan membaca simbol-simbol komponen pada skema televisi, (2) Kurangnya pengalaman belajar siswa dalam kegiatan praktek mereparasi televisi, (3) Kurangnya dukungan dari orang tua, 4) Rendahnya motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu upaya yaitu dengan mengimplementasikan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya KBM yang kondusif dan bermakna. Sebagai alternatif pendekatan pembelajaran tersebut adalah dengan pendekatan problem-base learning melalui media flowchart. Pendekatan ini didesain dengan menkonfrontasikan siswa dengan masalah-masalah faktual yang memadukan teori dan praktek serta lebih terfokus pada perolehan dari pada hasil. Dalam pembelajaran ini, siswa dikelompok menjadi 3-4 orang yang dibagi secara acak. Masing-masing kelompok diberikan tugas untuk mengatasi masalah sesuai dengan gejala kerusakan/gangguan pada power suply. Kemudian masing-masing kelompok diberikan tugas untuk mengumpulkan fakta dan menemukan masalah kerusakan/gangguan, mengalokasi masalah kerusakan, menganalisa masalah kerusakan, dan melaksanakan pemecahan masalah serta menguji coba hasil penyelesaian masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat Polya (1981) dalam I Wayan Santyasa (2008: 8), bahwa pembelajaran problem base learning dijalankan dengan empat langkah yaitu: (1) memahami masalah, (2) menyusun rencana pemecahan, (3) menjalankan rencana pemecahan, (4) menguji kembali penyelesaian yang diperoleh. Hal tersebut diperkuat oleh Dwiyogo (2000) mengemukakan bahwa proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh pembelajar mencakup tahap-tahap memahami masalah, merepresentasi masalah, menentukan model, melakukan kalkulasi, dan meyimpulkan masalah. Adapun media flowchart merupakan media yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar menjadi lebih kongkrit dan hasil pengalaman belajar dapat lebih berarti bagi siswa. Karena dengan media flowchart digambarkan dengan alur suatu proses secara berurutan untuk menganalisis dan mengidentifikasi masalah serta ruang lingkup aktivitas suatu pekerjaan perbaikan, sehingga lebih praktis dan cepat dalam menemukan masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat M Basyiruddin Usman (2002: 11) bahwa media flowchart merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan yang dapat mendorong terjadinya proses belajar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka secara eksplisif terdapat dua permasalahan dalam penelitian ini, yaitu
1. Apakah terjadi peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus?,
2. Apakah terjadi peningkatan aktivitas dan respon siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan kompetensi siswa dan respon siswa dalam pembelajaran mengatasi mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus tahun pelajaran 2008/2009.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa
a. Dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran guna menambah pengalaman belajar, b.Memperoleh pengalaman belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam menyelesaikan masalah.
2. Bagi guru
a.Dapat dijadikan salah satu alternatif inovasi pembelajaran untuk memperbaiki dan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas, b.Membantu guru secara terus menerus berusaha mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
3. Bagi lembaga pendidikan
Manfaat penelitian ini diharapkan dapat mendorong sekolah untuk mengembangkan program pembelajaran inovatif dalam upaya pengembangan profesionalisme guru dan meningkatkan kualitas lulusan.
II.LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teoritis
1. Pengertian Kompetensi
Kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap.(Depdiknas, 2003:2). Hal ini sejalan denagn pendapat Supratman Zakir (2007), bahwa kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai, sikap dan minat. Berdasarkan pengertian di atas dapat
ditemukan bahwa kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, sikap, ketrampilan, nilai dan minat yang dimiliki oleh peserta didik.
2. Pengertian Pembelajaran
Pengertian pembelajaran dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 dijelaskan bahwa pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Berdasar pemikiran di atas maka guru sebagai pendidik harus dapat mengelola kegiatan pembelajaran dengan memberikan peran yang aktif pada siswa selaku peserta didik.
3. Pengertian Motivasi Belajar
Menurut Zaenal Aqib (2002: 50) motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah dan penggerak tingkah laku. Sedang pendapat Slavin (1994) yang dikutip Catharina Tri Ani (2006: 156), bahwa motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, memandu, dan memelihara perilaku seseorang secara terus menerus. Dari beberapa pendapat di atas disimpulkan motivasi adalah proses internal yang dapat mendorong dan mengaktifkan perilaku seseorang dalam menentukan arah untuk berbuat dalam mencapai
tujuan.
4. Pembelajaran Problem-Based Learning (PBL)
Pembelajaran problem based learning (PBL), pada awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Barrows (1988) yang kemudian diadaptasi untuk program akademik kependidikan oleh Stepein Gallager (1993). PBL ini
dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif modern yang
menyatakan bahwa belajar suatu proses dalam mana pembelajar secara aktif
mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan
belajar yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran (Ni Made Suci 2008: 8). Teori yang dikembangkan ini mengandung dua prinsip penting yaitu 1) belajar adalah
suatu proses konstruksi bukan proses menerima (receptive process) 2)
belajar dipengaruhi oleh faktor interaksi social dan sifat kontektual dari
pelajaran (Wim.H.Gisjelairs, 1996). Teori ini mengisyaratkan bahwa dalam
pembelajaran terdapat proses konstruksi pengetahuan oleh pembelajar,
terjadi interaksi social baik antar mahasiswa maupun dosen serta materi
perkuliahan yang bersifat kontektual. Model pembelajaran berbasis masalah memiliki sejumlah karateristik yang membedakannya dengan model pembelajaran yang lainnya yaitu 1) pembelajaran bersifat student centered, 2) pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil, 3)guru berperan sebagai fasilitator
dan moderator, 4) masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk
mengembangkan ketrampilan problem solving, 5) informasi-informasi baru
diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning).
Pengertian Flowchart
Menurut Basyiruddin Usman (2002: 36) bahwa media flowchart merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan yang dapat mendorong terjadinya proses belajar. Hal tersebut diperkuat oleh Dexter A. Hansen (1985) dalam Kawentar (2006: 256), Flow chart adalah penyajian bentuk grafik dan semua pergerakan operasinya berurutan, menyajikan langkah suatu proses untuk menganalisis, mengidentifikasi masalah, dan ruang lingkup aktivitas dari suatu proses. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa flowchart adalah media pembelajaran yang berbentuk grafis yang digambarkan dengan alur suatu proses secara berurutan untuk menganalisis, mengidentifikasi masalah, dan ruang lingkup aktivitas suatu pekerjaan sebagai pemandu siswa.
5. Kerangka Berfikir Teoritis
Dari uraian di atas juga memberikan gambaran bahwa pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat memberikan kemudahan belajar bagi siswa. Siswa tidak lagi kesulitan didalam menemukan masalah kerusakan mengalokasi masalah kerusakan, menganalisa masalah kerusakan, dan melaksanakan pemecahan masalah, tetapi sebaliknya secara mudah siswa memperoleh gambaran riil dalam menentukan dan menemukan masalah secara cepat, tepat dan efisien waktu. Akibatnya siswa akan belajar dalam suasana nyaman penuh dengan suka cita dan interaktif. Dengan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan, menantang, memotivasi siswa lebih aktif dan kreatif serta reflektif, baik secara kelompok maupun secara individu dalam memecahkan masalah, sehingga rendahnya penguasaan kompetensi, rendahnya motivasi belajar siswa dan sikap kurang percaya diri yang sementara ini merupakan kendala dapat dicegah dan diatasi.
Berdasarkan kerangka berpikir dan kenyataan hasil penelitian di atas, maka semakin memberikan keyakinan bahwa pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat meningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah di SMK Muhammadiyah Kudus tahun pelajaran 2008/2009.
B. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka befikir di atas, dapat dikemukakan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut: “Pendekatan problem based learning melalui media flowchart, “dapat” meningkatan kompetensi siswa dan respon (tanggapan) siswa kelas XII Teknik Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus “berubah” ke arah yang positif “
III. METODE PENELITIAN
A. Seting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Kudus pada tanggal 28 Maret 2009 siklus I dan tanggal 4 April 2009 siklus II.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah kelas XII AV-1 SMK Muhammadiyah Kudus Kabupaten Kudus tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 37 siswa dengan pertimbangan bahwa kelas tersebut memilki persentase ketuntasan belajar dan motivasi belajar rendah
C. Variable Penelitian.
Variabel penelitian ini ada dua, yaitu peningkatan kompetensi mengatasi masalah power suply tegangan rendah sebagai variable terikat dan pendekatan problem base learning melalui media flowchart sebagai variable bebas.
D. Teknik Pengumpulan Data
Guna mencapai data yang lengkap dan memadai, maka dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode nontes dan metode
a. Metode Tes
Metode tes dan hasil unjuk kerja siswa digunakan untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah kelas XII AV-1 pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009.
b. Metode Nontes
Teknik nontes dalam penelitian ini meliputi metode observasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan dokumentasi.
c. Teknik Analisis Data.
Data tes dan non tes setelah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif dan teknik analisis kualitatif dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Data kuantitatif diperoleh dari penilaian unjuk kerja siswa (teori/ praktek), baik yang terdapat pada siklus I dan siklus II.
2. Data kualitatif yang diperoleh dari observasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan dokumentasi, kemudian data tersebut selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk mendiskripsikan keberhasilan penggunakan pendekatan problem base learning melalui media flowchart.
5.Indikator Kinerja
Individu atau siswa dinyatakan tuntas/kompeten, apabila hasil belajar siswa mencapai nilai ≥ 7,50; maka dinyatakan “tuntas/kompeten”. Sedangkan keberhasilan klasikal, apabila jumlah siswa yang mencapai nilai 7,50 ≥ 70 %, dinyatakan “berhasil”.
6. Prosedur Penelitian
Prosedur PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus yaitu: (1) merencanakan, (2) melakukan tindakan, (3) melakukan pengamatan dan (4) merefleksikan hasil pengamatan (observasi).
Adapun diskripsi pelaksanaan penelitian tindakan adalah sebagai berikut:
SIKLUS I
a. Perencanaan
Dalam perencanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I ini, peneliti melakukan serangkaian kegiatan, antara lain sebagai
1. Menganalisis kondisi awal siswa pada kompetensi dasar sebelumnya.
2. Membuat RPP, membuat job sheet dan lembar laporan unjuk kerja siswa.
3. Menyiapkan perangkat instrumen non tes dan tes.
b. Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus I dilakukan pada 28 Maret 2008 dan siklus II pada tanggal 4 April 2009 dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart. Adapun langkah-langkah yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Menerangkan kerangka materi dan tujuan pembelajaran .
2. Menjelaskan langkah kerja dengan media flowchart.
3. Membagi kelompok dengan anggota 3-4 orang.
4. Membagikan skema TV, lembar job sheet dan lembar laporan hasil kerja.
5. Menanyakan permasalahan/kesulitan dalam kegiatan praktek.
6. Melakukan penilaian unjuk kerja siswa.
7. Mengolah data tes dan non tes.
c. Observasi.
Terhadap tindakan kelas pada siklus I, guru melakukan mengamatan atau observasi secara cermat, intensif dan berkelanjutan. Data-data yang diamati sebagai berikut
1. Aktivitas dan perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, dengan lembar observasi yang telah dipersiapkan,
2. Penilaian dari hasil pelaksanaan pembelajaran dan, kesan balikan yang terjadi atau diberikan oleh siswa melalui jurnal siswa.
d. Refleksi tindakan
Akhirnya berdasarkan pada peren-canaan, tindakan yang dilakukan dan hasil pengamatan pada siklus I, peneliti mengulas secara kritis terhadap perubahan-perubahan pada aktivitas pembelajaran siswa yang terjadi. Adapun aspek-aspek perubahan yang dianalisis, adalah aktivitas perilaku dan hasil belajar siswa, suasana pembelajaran di kelas , dan ketuntasan belajar siswa terhadap materi pembelajaran.
Siklus II
Pada siklus II ini, penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan langkah-langkah yang hampir sama dengan siklus I. Untuk lebih meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta respon siswa berubah yang positif, maka ada beberapa aspek yang diperbaiki, disempurnakan dan dipertajam.
E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
Hasil Tes pada Siklus I dan siklus II
Hasil evaluasi pembelajaran tes dan unjuk kerja pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil belajar siswa pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan PBL melaui media flowchart
Siklus ke Rata-2 Prosentase ∑ siswa mencapai nilai ≥7.5 Prosentase nilai ≥7.5
Awal7,4 74 % 20 54 %
I 7,6 76 % 24 64,9 %
II 8,1 81 % 36 97,3 %
Hasil Nontes pada Siklus I dan siklus II
Tabel 2 : Hasil observasi pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3.0 61 3.9 78
Kategori Cukup Baik
Tabel 3 : Haisl jurnal siswa pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut
No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3,4 61 4,2 84
Kategori Baik Sangat baik
Tabel 4: Hasil wawancara pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut
No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3.2 63 4.1 82
Kategori Baik Sangat baik
Tabel 5: Catatan (jurnal) guru pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut
Siklus I
1).Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah/masih lambat 2).Perilaku siswa dalam menanggapi/menyampaikan pertanyaan atau ide masih rendah dan masih didominasi peran guru.3)Respon siswa masih rendah dan masih banyak warna yang didominasi peran guru.4)Suasana pembelajaran berlangsung tertib dan menyenangkan, tetapi kemampuan memprediksi dalam menganalisa masalah kerusakan televisi masih rendah. 5)Media flowchart belum secara maximal dapat meningkatan kompetensi siswa
Siklus II
1)Siswa lebih aktif, dan guru berperan sebagai fasilitator. 2)Siswa sudah berani menanggapi/menyampaikan pertanyaan atau ide dan guru berperan sebagai motivator 3)Respon siswa sangat antusias dan senang, guru berperan sebagai fasilitator.4)Suasana pembelajaran berlangsung lebih aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan , guru berperan sebagai fasilitator. 5)Media flowchart telah dapat meningkatan kompetensi siswa
F. Pembahasan
Hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang dilakukan penulis melalui tindakan pada siklus I dan siklus II, baik berupa data yang diperoleh dari data hasil tes maupun nontes, setelah dilakukan analisis selanjutnya perlu pembahasan sebagai berikut.
Berdasarkan analisis hasil tes teori(30%) dan hasil unjuk kerja praktek (70%) adalah sebagai berikut: (1) Nilai rata-rata hasil meningkat sebesar 2 % dari kondisi awal ke siklus I, dan 5 % dari siklus I ke siklus II (2) Jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 7,5 kondisi awal 46% atau 17 siswa, siklus I 64,9% atau 24 siswa dan siklus II sebesar 97,3% atau 36 siswa. Dengan demikian terdapat peningkatan jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 7,50 sebesar 18,9% dari kondisi awal ke siklus I dan 32,4 % dari siklus I ke siklus II, (3) Jumlah siswa pada kondisi awal yang nilainya kurang dari 7,49 sebanyak 20 siswa (54%), pada siklus I sebanyak 13 siswa (35,1%), dan pada siklus II jumlah siswa yang nilainya kurang dari 7,49 sebanyak 1 siswa (2,7%).
Berdasarkan hasil observasi terhadap aktifitas belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 17 %. Sedang aktivitas belajar siswa ada perubahan tingkah laku dari cukup berubah menjadi baik. Dengan demikian, aktivitas belajar siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melaui media flowchart dapat memberikan respon yang positip.
Berdasarkan hasil jurnal siswa terdapat adanya peningkatan aktifitas siswa sebesar 23 %, sedang perubahan tingkah laku terjadi perubahan yaitu baik menjadi sangat baik. Dengan demikian, respon/tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melaui media flowchart dapat memberikan respon yang positip.
Berdasarkan hasil wawancara terjadi perubahan aktivitas sebesar 19%, sedang perubahan tingkah laku terjadi perubahan yaitu baik menjadi sangat baik. Hal ini memberikan gambaran bahwa pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart memberikan respon ke arah yang lebih positf.
Gambaran-gambaran tersebut juga dapat dilihat dari rekaman foto sebagai beriku
Berdasarkan gambar-gambar di atas, menunjukan bahwa aktivitas pembelajaran berlangsung dalam suasana yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Proses pembelajaran seperti keadaan tersebut adalah pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yaitu PAKEM: pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Dari hasil catatan guru pada siklus I diperoleh gambaran sebagai berikut: (1) aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah/masih lambat, , (2) Perilaku siswa dalam menanggapi dan menyampaikan pertanyaan atau ide masih rendah, (3) respon siswa dalam pembelajaran masih rendah dan masih banyak warna yang didominasi peran guru, (4) Suasana pembelajaran berlangsung tertib dan menyenangkan, tetapi kemampuan memprediksi dalam menganalisa masalah kerusakan televisi masih rendah,. (5) Penerapan PBL melaui media flowchart belum menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa secara signifikan. Sedang hasil catatan guru/jurnal guru pada siklus II diperoleh gambaran sebagai berikut: (1) Siswa lebih aktif, guru berperan sebagai fasilitator (2) Siswa belajar secara mandiri dan berdiskusi dalam kelompok dan guru berperan sebagai motivator. (3) Respon siswa sangat antusias dan senang (4) Suasana pembelajaran berlangsung lebih aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta telah ada peningkatan kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam memprediksi/menganalisa masalah kerusakan televisi. (5) Penerapan PBL melaui media flowchart telah menunjukkan peningkatan kompetensi/hasil belajar.
Dengan kenyataan hasil yang dicapai dari penelitian bahwa lebih dari 70 % kelompok mencapai skor minimal 7.5, maka pembelajara dikatakan berkualitas. Hal ini sesuai dengan Mulyasa (2004:101) bahwa proses pembelajaran dikatakan berkualitas dapat pula dilihat dari segi hasil, yaitu sekurang kurangnya 70 % siswa tuntas belajar.
Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa peningkatan aktivitas dan kompetensi hasil belajar siswa mengatasi masalah power suply tegangan rendah ”dapat” dilakukan dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart.
Hal ini sangat mungkin karena pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart memberikan kegiatan-kegiatan :
1. pembelajaran lebih bermakma karena siswa mendapatkan pengalaman langsung yang bermanfaat bagi dirinya.
2. pembelajaran lebih demokratis dengan menciptakan komunikasi terbuka sehingga siswa dapat saling berdiskusi dan bertukar pengalaman dalam kelompoknya.
3. Pembelajaran dilakukan dengan penyajian baru (Novelty), yaitu dengan menampilkan media flowchart, sehingga siswa tidak merasa bosan dan lebih menyenangkan.
4. Pembelajaran dilakukan dengan memberikan latihan/praktek yang aktif dan bermanfaat, sehingga membimbing siswa untuk dapat melakukan pemecahan masalah yang sebenarnya.
5. Pembelajaran dilakukan dengan mewujudkan suasanan belajar menyenangkan sehingga siswa termotivasi dan memiliki minat yang tinggi untuk meraih hasil belajar yang maksimal.
IV. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan kondisi pelaksanaan tindakan maka dapat diformulasikan beberapa simpulan sebagai berikut.
Pertama, pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat meningkatkan aktivitas belajar sebesar 17 % dan peningkatan hasil belajar sebesar 32,4 %.
Kedua, pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart mendapat respon (tanggapan) yang positif dari siswa.
Saran
Berdasarkan hasil yang dicapai dari penelitian ini, maka pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah sebaiknya dilakukan secara dinamis dengan pendekaatan problem base learning (PBL) melaui media flowchart, sehingga menumbuhkan aktivitas belajar yang tinggi. Demikian pula agar pembelajaran berlangsung secara interaktif dan mandiri pada siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Ani Catharina Tri, Ahmad Rifa’I, Edi Purwanto, Daniel Purnomo, 2006, Psikologi Belajar, Semarang, Unnes Press
Aqib Zaenal, 2002, Profesional Guru dalam Pembelajaran, Surabaya, Insan Cendikia
Depdiknas, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 2004, Kurikulum SMK Edisi 2004, Bidang Keahlian Teknik Elektronika, Program Keahlian Teknik Audio Video. Departemen Pendidikan Nasional
Depdiknas, 2003, Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Elektronika Maintenance & Repair (M&R) , Departemen Pendidikan Nasional.
Kawentar, 2006, Penerapan Pembelajaran Elaborasi untuk Meningkatkan Ketrampilan dalam Membuat Flowchart, PTK, Tidak diterbitkan
Made Suci Ni. 2008, Penerapan Model Problem Base Learning untuk Meningkatan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Teori Akuntasi Mahasiswa Jurusan Ekonomi Undiksha, www.freewebs.com diunduh 16 April 2009
Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Permendiknas No. 41, 2007, Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, BSNP
Santyasa I Wayan, 2008, Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Kooperatif, www.freeweb.com diunduh 30 Marte 2009
Warmada I Wayan, 2004, Problem-Based Learning (PBL) berbasis Teknologi Informasi (ICT), www.indomedia.com diunduh 30 Mar 2009
Zakir Supratman, 2006, Strategi Pengembangan Komptensi Siswa dengan Manajemen Berbasis Sekolah, http//: fortip.org, diunduh 16 April 2009
dengan Pendekatan Problem Based Learning melalui Media Flowchart
bagi Siswa Kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus
Tahun Pelajaran 2008/2009.
Oleh: Supriyadi*)
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah 37 siswa. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan tes hasil belajar, kemudian dianalisis dengan metode analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan problem base learning melalui media flowchart: 1)meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, 2) meningkatkan kompetensi siswa balam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah, 3) mendapat respon yang positif dari siswa karena pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Kata-kata kunci: kompetensi, problem base learning, media flowchart
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada pelaksanaanya pembelajaran praktek mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah yang umum dilakukan guru adalah diskusi informasi dan pendekatan praktek atau penugasan. Pendekatan diskusi informasi yang sering dilakukan guru adalah melalui komunikasi satu arah yang lebih banyak menerima informasi dari guru dari pada berusaha sendiri. Dengan demikian peran siswa dalam pembelajaran kurang aktif dan kurang mendapatkan pengalaman yang bermakna dan timbul beberapa masalah bahwa tidak semua siswa yang mengikuti pembelajaran menguasai kompetensi yang diajarkan.
Pada kenyataannya kegiatan praktek atau penugasan tersebut hanya mampu memberikan data-data yang sangat terbatas. Hal ini terjadi karena: (1) siswa pada umumnya mengalami kesulitan membaca simbol-simbol komponen pada skema televisi, (2) Kurangnya pengalaman belajar siswa dalam kegiatan praktek mereparasi televisi, (3) Kurangnya dukungan dari orang tua, 4) Rendahnya motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu upaya yaitu dengan mengimplementasikan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya KBM yang kondusif dan bermakna. Sebagai alternatif pendekatan pembelajaran tersebut adalah dengan pendekatan problem-base learning melalui media flowchart. Pendekatan ini didesain dengan menkonfrontasikan siswa dengan masalah-masalah faktual yang memadukan teori dan praktek serta lebih terfokus pada perolehan dari pada hasil. Dalam pembelajaran ini, siswa dikelompok menjadi 3-4 orang yang dibagi secara acak. Masing-masing kelompok diberikan tugas untuk mengatasi masalah sesuai dengan gejala kerusakan/gangguan pada power suply. Kemudian masing-masing kelompok diberikan tugas untuk mengumpulkan fakta dan menemukan masalah kerusakan/gangguan, mengalokasi masalah kerusakan, menganalisa masalah kerusakan, dan melaksanakan pemecahan masalah serta menguji coba hasil penyelesaian masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat Polya (1981) dalam I Wayan Santyasa (2008: 8), bahwa pembelajaran problem base learning dijalankan dengan empat langkah yaitu: (1) memahami masalah, (2) menyusun rencana pemecahan, (3) menjalankan rencana pemecahan, (4) menguji kembali penyelesaian yang diperoleh. Hal tersebut diperkuat oleh Dwiyogo (2000) mengemukakan bahwa proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh pembelajar mencakup tahap-tahap memahami masalah, merepresentasi masalah, menentukan model, melakukan kalkulasi, dan meyimpulkan masalah. Adapun media flowchart merupakan media yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar menjadi lebih kongkrit dan hasil pengalaman belajar dapat lebih berarti bagi siswa. Karena dengan media flowchart digambarkan dengan alur suatu proses secara berurutan untuk menganalisis dan mengidentifikasi masalah serta ruang lingkup aktivitas suatu pekerjaan perbaikan, sehingga lebih praktis dan cepat dalam menemukan masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat M Basyiruddin Usman (2002: 11) bahwa media flowchart merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan yang dapat mendorong terjadinya proses belajar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka secara eksplisif terdapat dua permasalahan dalam penelitian ini, yaitu
1. Apakah terjadi peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus?,
2. Apakah terjadi peningkatan aktivitas dan respon siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus ?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan kompetensi siswa dan respon siswa dalam pembelajaran mengatasi mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus tahun pelajaran 2008/2009.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa
a. Dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran guna menambah pengalaman belajar, b.Memperoleh pengalaman belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam menyelesaikan masalah.
2. Bagi guru
a.Dapat dijadikan salah satu alternatif inovasi pembelajaran untuk memperbaiki dan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas, b.Membantu guru secara terus menerus berusaha mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
3. Bagi lembaga pendidikan
Manfaat penelitian ini diharapkan dapat mendorong sekolah untuk mengembangkan program pembelajaran inovatif dalam upaya pengembangan profesionalisme guru dan meningkatkan kualitas lulusan.
II.LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teoritis
1. Pengertian Kompetensi
Kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap.(Depdiknas, 2003:2). Hal ini sejalan denagn pendapat Supratman Zakir (2007), bahwa kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai, sikap dan minat. Berdasarkan pengertian di atas dapat
ditemukan bahwa kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, sikap, ketrampilan, nilai dan minat yang dimiliki oleh peserta didik.
2. Pengertian Pembelajaran
Pengertian pembelajaran dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 dijelaskan bahwa pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Berdasar pemikiran di atas maka guru sebagai pendidik harus dapat mengelola kegiatan pembelajaran dengan memberikan peran yang aktif pada siswa selaku peserta didik.
3. Pengertian Motivasi Belajar
Menurut Zaenal Aqib (2002: 50) motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah dan penggerak tingkah laku. Sedang pendapat Slavin (1994) yang dikutip Catharina Tri Ani (2006: 156), bahwa motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, memandu, dan memelihara perilaku seseorang secara terus menerus. Dari beberapa pendapat di atas disimpulkan motivasi adalah proses internal yang dapat mendorong dan mengaktifkan perilaku seseorang dalam menentukan arah untuk berbuat dalam mencapai
tujuan.
4. Pembelajaran Problem-Based Learning (PBL)
Pembelajaran problem based learning (PBL), pada awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Barrows (1988) yang kemudian diadaptasi untuk program akademik kependidikan oleh Stepein Gallager (1993). PBL ini
dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif modern yang
menyatakan bahwa belajar suatu proses dalam mana pembelajar secara aktif
mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan
belajar yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran (Ni Made Suci 2008: 8). Teori yang dikembangkan ini mengandung dua prinsip penting yaitu 1) belajar adalah
suatu proses konstruksi bukan proses menerima (receptive process) 2)
belajar dipengaruhi oleh faktor interaksi social dan sifat kontektual dari
pelajaran (Wim.H.Gisjelairs, 1996). Teori ini mengisyaratkan bahwa dalam
pembelajaran terdapat proses konstruksi pengetahuan oleh pembelajar,
terjadi interaksi social baik antar mahasiswa maupun dosen serta materi
perkuliahan yang bersifat kontektual. Model pembelajaran berbasis masalah memiliki sejumlah karateristik yang membedakannya dengan model pembelajaran yang lainnya yaitu 1) pembelajaran bersifat student centered, 2) pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil, 3)guru berperan sebagai fasilitator
dan moderator, 4) masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk
mengembangkan ketrampilan problem solving, 5) informasi-informasi baru
diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning).
Pengertian Flowchart
Menurut Basyiruddin Usman (2002: 36) bahwa media flowchart merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan yang dapat mendorong terjadinya proses belajar. Hal tersebut diperkuat oleh Dexter A. Hansen (1985) dalam Kawentar (2006: 256), Flow chart adalah penyajian bentuk grafik dan semua pergerakan operasinya berurutan, menyajikan langkah suatu proses untuk menganalisis, mengidentifikasi masalah, dan ruang lingkup aktivitas dari suatu proses. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa flowchart adalah media pembelajaran yang berbentuk grafis yang digambarkan dengan alur suatu proses secara berurutan untuk menganalisis, mengidentifikasi masalah, dan ruang lingkup aktivitas suatu pekerjaan sebagai pemandu siswa.
5. Kerangka Berfikir Teoritis
Dari uraian di atas juga memberikan gambaran bahwa pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat memberikan kemudahan belajar bagi siswa. Siswa tidak lagi kesulitan didalam menemukan masalah kerusakan mengalokasi masalah kerusakan, menganalisa masalah kerusakan, dan melaksanakan pemecahan masalah, tetapi sebaliknya secara mudah siswa memperoleh gambaran riil dalam menentukan dan menemukan masalah secara cepat, tepat dan efisien waktu. Akibatnya siswa akan belajar dalam suasana nyaman penuh dengan suka cita dan interaktif. Dengan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan, menantang, memotivasi siswa lebih aktif dan kreatif serta reflektif, baik secara kelompok maupun secara individu dalam memecahkan masalah, sehingga rendahnya penguasaan kompetensi, rendahnya motivasi belajar siswa dan sikap kurang percaya diri yang sementara ini merupakan kendala dapat dicegah dan diatasi.
Berdasarkan kerangka berpikir dan kenyataan hasil penelitian di atas, maka semakin memberikan keyakinan bahwa pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat meningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah di SMK Muhammadiyah Kudus tahun pelajaran 2008/2009.
B. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka befikir di atas, dapat dikemukakan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut: “Pendekatan problem based learning melalui media flowchart, “dapat” meningkatan kompetensi siswa dan respon (tanggapan) siswa kelas XII Teknik Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus “berubah” ke arah yang positif “
III. METODE PENELITIAN
A. Seting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Kudus pada tanggal 28 Maret 2009 siklus I dan tanggal 4 April 2009 siklus II.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah kelas XII AV-1 SMK Muhammadiyah Kudus Kabupaten Kudus tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 37 siswa dengan pertimbangan bahwa kelas tersebut memilki persentase ketuntasan belajar dan motivasi belajar rendah
C. Variable Penelitian.
Variabel penelitian ini ada dua, yaitu peningkatan kompetensi mengatasi masalah power suply tegangan rendah sebagai variable terikat dan pendekatan problem base learning melalui media flowchart sebagai variable bebas.
D. Teknik Pengumpulan Data
Guna mencapai data yang lengkap dan memadai, maka dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode nontes dan metode
a. Metode Tes
Metode tes dan hasil unjuk kerja siswa digunakan untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah kelas XII AV-1 pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009.
b. Metode Nontes
Teknik nontes dalam penelitian ini meliputi metode observasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan dokumentasi.
c. Teknik Analisis Data.
Data tes dan non tes setelah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif dan teknik analisis kualitatif dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Data kuantitatif diperoleh dari penilaian unjuk kerja siswa (teori/ praktek), baik yang terdapat pada siklus I dan siklus II.
2. Data kualitatif yang diperoleh dari observasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan dokumentasi, kemudian data tersebut selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk mendiskripsikan keberhasilan penggunakan pendekatan problem base learning melalui media flowchart.
5.Indikator Kinerja
Individu atau siswa dinyatakan tuntas/kompeten, apabila hasil belajar siswa mencapai nilai ≥ 7,50; maka dinyatakan “tuntas/kompeten”. Sedangkan keberhasilan klasikal, apabila jumlah siswa yang mencapai nilai 7,50 ≥ 70 %, dinyatakan “berhasil”.
6. Prosedur Penelitian
Prosedur PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus yaitu: (1) merencanakan, (2) melakukan tindakan, (3) melakukan pengamatan dan (4) merefleksikan hasil pengamatan (observasi).
Adapun diskripsi pelaksanaan penelitian tindakan adalah sebagai berikut:
SIKLUS I
a. Perencanaan
Dalam perencanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I ini, peneliti melakukan serangkaian kegiatan, antara lain sebagai
1. Menganalisis kondisi awal siswa pada kompetensi dasar sebelumnya.
2. Membuat RPP, membuat job sheet dan lembar laporan unjuk kerja siswa.
3. Menyiapkan perangkat instrumen non tes dan tes.
b. Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus I dilakukan pada 28 Maret 2008 dan siklus II pada tanggal 4 April 2009 dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart. Adapun langkah-langkah yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Menerangkan kerangka materi dan tujuan pembelajaran .
2. Menjelaskan langkah kerja dengan media flowchart.
3. Membagi kelompok dengan anggota 3-4 orang.
4. Membagikan skema TV, lembar job sheet dan lembar laporan hasil kerja.
5. Menanyakan permasalahan/kesulitan dalam kegiatan praktek.
6. Melakukan penilaian unjuk kerja siswa.
7. Mengolah data tes dan non tes.
c. Observasi.
Terhadap tindakan kelas pada siklus I, guru melakukan mengamatan atau observasi secara cermat, intensif dan berkelanjutan. Data-data yang diamati sebagai berikut
1. Aktivitas dan perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, dengan lembar observasi yang telah dipersiapkan,
2. Penilaian dari hasil pelaksanaan pembelajaran dan, kesan balikan yang terjadi atau diberikan oleh siswa melalui jurnal siswa.
d. Refleksi tindakan
Akhirnya berdasarkan pada peren-canaan, tindakan yang dilakukan dan hasil pengamatan pada siklus I, peneliti mengulas secara kritis terhadap perubahan-perubahan pada aktivitas pembelajaran siswa yang terjadi. Adapun aspek-aspek perubahan yang dianalisis, adalah aktivitas perilaku dan hasil belajar siswa, suasana pembelajaran di kelas , dan ketuntasan belajar siswa terhadap materi pembelajaran.
Siklus II
Pada siklus II ini, penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan langkah-langkah yang hampir sama dengan siklus I. Untuk lebih meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta respon siswa berubah yang positif, maka ada beberapa aspek yang diperbaiki, disempurnakan dan dipertajam.
E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
Hasil Tes pada Siklus I dan siklus II
Hasil evaluasi pembelajaran tes dan unjuk kerja pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil belajar siswa pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan PBL melaui media flowchart
Siklus ke Rata-2 Prosentase ∑ siswa mencapai nilai ≥7.5 Prosentase nilai ≥7.5
Awal7,4 74 % 20 54 %
I 7,6 76 % 24 64,9 %
II 8,1 81 % 36 97,3 %
Hasil Nontes pada Siklus I dan siklus II
Tabel 2 : Hasil observasi pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3.0 61 3.9 78
Kategori Cukup Baik
Tabel 3 : Haisl jurnal siswa pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut
No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3,4 61 4,2 84
Kategori Baik Sangat baik
Tabel 4: Hasil wawancara pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut
No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3.2 63 4.1 82
Kategori Baik Sangat baik
Tabel 5: Catatan (jurnal) guru pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut
Siklus I
1).Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah/masih lambat 2).Perilaku siswa dalam menanggapi/menyampaikan pertanyaan atau ide masih rendah dan masih didominasi peran guru.3)Respon siswa masih rendah dan masih banyak warna yang didominasi peran guru.4)Suasana pembelajaran berlangsung tertib dan menyenangkan, tetapi kemampuan memprediksi dalam menganalisa masalah kerusakan televisi masih rendah. 5)Media flowchart belum secara maximal dapat meningkatan kompetensi siswa
Siklus II
1)Siswa lebih aktif, dan guru berperan sebagai fasilitator. 2)Siswa sudah berani menanggapi/menyampaikan pertanyaan atau ide dan guru berperan sebagai motivator 3)Respon siswa sangat antusias dan senang, guru berperan sebagai fasilitator.4)Suasana pembelajaran berlangsung lebih aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan , guru berperan sebagai fasilitator. 5)Media flowchart telah dapat meningkatan kompetensi siswa
F. Pembahasan
Hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang dilakukan penulis melalui tindakan pada siklus I dan siklus II, baik berupa data yang diperoleh dari data hasil tes maupun nontes, setelah dilakukan analisis selanjutnya perlu pembahasan sebagai berikut.
Berdasarkan analisis hasil tes teori(30%) dan hasil unjuk kerja praktek (70%) adalah sebagai berikut: (1) Nilai rata-rata hasil meningkat sebesar 2 % dari kondisi awal ke siklus I, dan 5 % dari siklus I ke siklus II (2) Jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 7,5 kondisi awal 46% atau 17 siswa, siklus I 64,9% atau 24 siswa dan siklus II sebesar 97,3% atau 36 siswa. Dengan demikian terdapat peningkatan jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 7,50 sebesar 18,9% dari kondisi awal ke siklus I dan 32,4 % dari siklus I ke siklus II, (3) Jumlah siswa pada kondisi awal yang nilainya kurang dari 7,49 sebanyak 20 siswa (54%), pada siklus I sebanyak 13 siswa (35,1%), dan pada siklus II jumlah siswa yang nilainya kurang dari 7,49 sebanyak 1 siswa (2,7%).
Berdasarkan hasil observasi terhadap aktifitas belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 17 %. Sedang aktivitas belajar siswa ada perubahan tingkah laku dari cukup berubah menjadi baik. Dengan demikian, aktivitas belajar siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melaui media flowchart dapat memberikan respon yang positip.
Berdasarkan hasil jurnal siswa terdapat adanya peningkatan aktifitas siswa sebesar 23 %, sedang perubahan tingkah laku terjadi perubahan yaitu baik menjadi sangat baik. Dengan demikian, respon/tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melaui media flowchart dapat memberikan respon yang positip.
Berdasarkan hasil wawancara terjadi perubahan aktivitas sebesar 19%, sedang perubahan tingkah laku terjadi perubahan yaitu baik menjadi sangat baik. Hal ini memberikan gambaran bahwa pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart memberikan respon ke arah yang lebih positf.
Gambaran-gambaran tersebut juga dapat dilihat dari rekaman foto sebagai beriku
Berdasarkan gambar-gambar di atas, menunjukan bahwa aktivitas pembelajaran berlangsung dalam suasana yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Proses pembelajaran seperti keadaan tersebut adalah pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yaitu PAKEM: pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Dari hasil catatan guru pada siklus I diperoleh gambaran sebagai berikut: (1) aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah/masih lambat, , (2) Perilaku siswa dalam menanggapi dan menyampaikan pertanyaan atau ide masih rendah, (3) respon siswa dalam pembelajaran masih rendah dan masih banyak warna yang didominasi peran guru, (4) Suasana pembelajaran berlangsung tertib dan menyenangkan, tetapi kemampuan memprediksi dalam menganalisa masalah kerusakan televisi masih rendah,. (5) Penerapan PBL melaui media flowchart belum menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa secara signifikan. Sedang hasil catatan guru/jurnal guru pada siklus II diperoleh gambaran sebagai berikut: (1) Siswa lebih aktif, guru berperan sebagai fasilitator (2) Siswa belajar secara mandiri dan berdiskusi dalam kelompok dan guru berperan sebagai motivator. (3) Respon siswa sangat antusias dan senang (4) Suasana pembelajaran berlangsung lebih aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta telah ada peningkatan kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam memprediksi/menganalisa masalah kerusakan televisi. (5) Penerapan PBL melaui media flowchart telah menunjukkan peningkatan kompetensi/hasil belajar.
Dengan kenyataan hasil yang dicapai dari penelitian bahwa lebih dari 70 % kelompok mencapai skor minimal 7.5, maka pembelajara dikatakan berkualitas. Hal ini sesuai dengan Mulyasa (2004:101) bahwa proses pembelajaran dikatakan berkualitas dapat pula dilihat dari segi hasil, yaitu sekurang kurangnya 70 % siswa tuntas belajar.
Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa peningkatan aktivitas dan kompetensi hasil belajar siswa mengatasi masalah power suply tegangan rendah ”dapat” dilakukan dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart.
Hal ini sangat mungkin karena pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart memberikan kegiatan-kegiatan :
1. pembelajaran lebih bermakma karena siswa mendapatkan pengalaman langsung yang bermanfaat bagi dirinya.
2. pembelajaran lebih demokratis dengan menciptakan komunikasi terbuka sehingga siswa dapat saling berdiskusi dan bertukar pengalaman dalam kelompoknya.
3. Pembelajaran dilakukan dengan penyajian baru (Novelty), yaitu dengan menampilkan media flowchart, sehingga siswa tidak merasa bosan dan lebih menyenangkan.
4. Pembelajaran dilakukan dengan memberikan latihan/praktek yang aktif dan bermanfaat, sehingga membimbing siswa untuk dapat melakukan pemecahan masalah yang sebenarnya.
5. Pembelajaran dilakukan dengan mewujudkan suasanan belajar menyenangkan sehingga siswa termotivasi dan memiliki minat yang tinggi untuk meraih hasil belajar yang maksimal.
IV. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan kondisi pelaksanaan tindakan maka dapat diformulasikan beberapa simpulan sebagai berikut.
Pertama, pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat meningkatkan aktivitas belajar sebesar 17 % dan peningkatan hasil belajar sebesar 32,4 %.
Kedua, pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart mendapat respon (tanggapan) yang positif dari siswa.
Saran
Berdasarkan hasil yang dicapai dari penelitian ini, maka pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah sebaiknya dilakukan secara dinamis dengan pendekaatan problem base learning (PBL) melaui media flowchart, sehingga menumbuhkan aktivitas belajar yang tinggi. Demikian pula agar pembelajaran berlangsung secara interaktif dan mandiri pada siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Ani Catharina Tri, Ahmad Rifa’I, Edi Purwanto, Daniel Purnomo, 2006, Psikologi Belajar, Semarang, Unnes Press
Aqib Zaenal, 2002, Profesional Guru dalam Pembelajaran, Surabaya, Insan Cendikia
Depdiknas, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 2004, Kurikulum SMK Edisi 2004, Bidang Keahlian Teknik Elektronika, Program Keahlian Teknik Audio Video. Departemen Pendidikan Nasional
Depdiknas, 2003, Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Elektronika Maintenance & Repair (M&R) , Departemen Pendidikan Nasional.
Kawentar, 2006, Penerapan Pembelajaran Elaborasi untuk Meningkatkan Ketrampilan dalam Membuat Flowchart, PTK, Tidak diterbitkan
Made Suci Ni. 2008, Penerapan Model Problem Base Learning untuk Meningkatan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Teori Akuntasi Mahasiswa Jurusan Ekonomi Undiksha, www.freewebs.com diunduh 16 April 2009
Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.
Permendiknas No. 41, 2007, Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, BSNP
Santyasa I Wayan, 2008, Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Kooperatif, www.freeweb.com diunduh 30 Marte 2009
Warmada I Wayan, 2004, Problem-Based Learning (PBL) berbasis Teknologi Informasi (ICT), www.indomedia.com diunduh 30 Mar 2009
Zakir Supratman, 2006, Strategi Pengembangan Komptensi Siswa dengan Manajemen Berbasis Sekolah, http//: fortip.org, diunduh 16 April 2009
Kamis, 04 Juni 2009
KOMPETENSI KEAHLIAN MULTIMEDIA
DAFTAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK) DAN KOMPETENSI KEJURUAN (KK)
SMK MUHAMMADIYAH KUDUS
BIDANG STUDI KEAHLIAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI KEAHLIAN : TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA
KOMPETENSI KEAHLIAN : MULTI MEDIA (072)
A. DASAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK)
1. Merakit personal computer
1.1 Merencanakan kebutuhan dan spesifikasi
1.2 Melakukan instalasi komponen PC
1.3 Melakukan keselamatan kerja dalam merakit komputer
1.4 Mengatur komponen PC menggunakan software (melalui setup BIOS dan aktifasi komponen sistem operasi).
1.5 Menyambung periferal menggunakan Software
1.6 Memeriksa hasil perakitan PC dan pemasangan periferal.
2. Melakukan instalasi sistem operasi dasar
2.1 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi
2.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
2.3 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
2.4 Melakukan troubleshooting.
3. Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
3.1 Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
3.2 Melaksanakan prosedur K3
3.3 Menerapkan konsep lingkungan hidup
3.4 Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan.
3. KOMPETENSI KEJURUAN (DKK) MULTIMEDIA (072)
1. Memahami etimologi multimedia
1.1 Mendeskripsikan tentang multimedia
1.2 Menjelaskan multimedia content production
1.3 Menjelaskan multimedia communication.
2. Memahami alir proses produksi produk multimedia
2.1 Menjelaskan proses pre production multimedia
2.2 Menjelaskan proses production multimedia
2.3 Menjelaskan proses post production multimedia.
3. Merawat peralatan multimedia
3.1 Menjelaskan langkah-langkah perawatan peralatan multimedia
3.2 Melakukan perawatan peralatan multimedia
3.3 Membuat kartu perawatan peralatan multimedia.
4. Mengelola isi halaman web
4.1 Memeriksa informasi untuk relevansi dan currency
4.2 Memeriksa links dan navigasi
4.3 Mengedit informasi sesuai kebutuhan
4.4 Menguji dan memastikan perubahan perubahan.
5. Menerapkan teknik pengambilan gambar produksi
5.1 Menjelaskan prosedur pengoperasian kamera video
5.2 Mengoperasikan kamera video
5.3 Mengisi dan merawat battery selama pengambilan gambar
5.4 Mengoperasikan kamera
5.5 Menata kabel-kabel kamera
5.6 Mengoperasikan clapper board.
6. Menerapkan prinsip-prinsip seni grafis dalam desain komunikasi visual untuk multimedia
6.1 Menjelaskan kaidah estetika dan etika seni grafis (nirmana)
6.2 Membuat sketsa
6.3 Menggambar perspektif
6.4 Menggambar objek
6.5 Menggambar ilustrasi.
7. Menguasai cara menggambar kunci untuk animasi
7.1 Menjelaskan syarat animasi
7.2 Membuat gambar kunci
7.3 Mengatur dan melengkapi gambar kunci.
8. Menguasai cara menggambar clean-up dan sisip
8.1 Mendeskripsikan gambar yang asli
8.2 Membuat gambar-gambar asli
8.3 Mendeskripsikan gambar tiga dimensi
8.4 Membuat gambar tiga dimensi.
9. Menguasai dasar animasi stop-motion (bidang datar)
9.1 Mendeskripsikan syarat-syarat animasi
9.2 Membuat model warna dan tempat warna.
10. Menggabungkan teks kedalam sajian multimedia
10.1 Menggunakan software teks multimedia
10.2 Mendesain teks multimedia.
11. Menggabungkan gambar 2D kedalam sajian multimedia
11.1 Mengedit gambar digital
11.2 Menggunakan software grafik multimedia 2D
11.3 Menciptakan design grafik Multimedia 2D
11.4 Menampilkan karya seni digital 2D.
12. Menggabungkan fotografi digital kedalam sajian multimedia
12.1 Menggunakan kamera digital
12.2 Menggabungkan foto digital kedalam rangkaian Multimedia
12.3 Menciptakan susunan karya seni foto digital dan grafik 2D.
13. Menggabungkan audio ke dalam sajian multimedia
13.1 Menjabarkan format audio digital
13.2 Menggunakan software audio digital
13.3 Merancang audio digital
13.4 Membangun track audio digital.
14. Membuat story board aplikasi multimedia
14.1 Mengidentifikasi kebutuhan
14.2 Merencanakan alur isi story board
14.3 Medeskripsikan proses pelaksanaan dalam story board.
15. Memahami cara penggunaan peralatan tata cahaya.
15.1 Menjelaskan dasar tata cahaya
15.2 Menjelaskan efek cahaya
15.3 Menyiapkan operasi lighting
16. Menerapkan efek khusus pada objek produksi
16.1 Mengidentifikasikan materi penunjang efek khusus
16.2 Menginstallasi software efek khusus
16.3 Membuat efek khusus pada obyek.
17. Menyusun proposal penawaran
17.1 Menganalisa syarat-syarat proyek
17.2 Mengidentifikasi keterampilan yang sesuai dengan persyaratan laporan
17.3 Membuat rancangan biaya biaya dan sumber sumber yang ada
17.4 Membuat proposal
17.5 Membuat pengajuan permohonan tender.
SMK MUHAMMADIYAH KUDUS
BIDANG STUDI KEAHLIAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI KEAHLIAN : TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA
KOMPETENSI KEAHLIAN : MULTI MEDIA (072)
A. DASAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK)
1. Merakit personal computer
1.1 Merencanakan kebutuhan dan spesifikasi
1.2 Melakukan instalasi komponen PC
1.3 Melakukan keselamatan kerja dalam merakit komputer
1.4 Mengatur komponen PC menggunakan software (melalui setup BIOS dan aktifasi komponen sistem operasi).
1.5 Menyambung periferal menggunakan Software
1.6 Memeriksa hasil perakitan PC dan pemasangan periferal.
2. Melakukan instalasi sistem operasi dasar
2.1 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi
2.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
2.3 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
2.4 Melakukan troubleshooting.
3. Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
3.1 Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
3.2 Melaksanakan prosedur K3
3.3 Menerapkan konsep lingkungan hidup
3.4 Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan.
3. KOMPETENSI KEJURUAN (DKK) MULTIMEDIA (072)
1. Memahami etimologi multimedia
1.1 Mendeskripsikan tentang multimedia
1.2 Menjelaskan multimedia content production
1.3 Menjelaskan multimedia communication.
2. Memahami alir proses produksi produk multimedia
2.1 Menjelaskan proses pre production multimedia
2.2 Menjelaskan proses production multimedia
2.3 Menjelaskan proses post production multimedia.
3. Merawat peralatan multimedia
3.1 Menjelaskan langkah-langkah perawatan peralatan multimedia
3.2 Melakukan perawatan peralatan multimedia
3.3 Membuat kartu perawatan peralatan multimedia.
4. Mengelola isi halaman web
4.1 Memeriksa informasi untuk relevansi dan currency
4.2 Memeriksa links dan navigasi
4.3 Mengedit informasi sesuai kebutuhan
4.4 Menguji dan memastikan perubahan perubahan.
5. Menerapkan teknik pengambilan gambar produksi
5.1 Menjelaskan prosedur pengoperasian kamera video
5.2 Mengoperasikan kamera video
5.3 Mengisi dan merawat battery selama pengambilan gambar
5.4 Mengoperasikan kamera
5.5 Menata kabel-kabel kamera
5.6 Mengoperasikan clapper board.
6. Menerapkan prinsip-prinsip seni grafis dalam desain komunikasi visual untuk multimedia
6.1 Menjelaskan kaidah estetika dan etika seni grafis (nirmana)
6.2 Membuat sketsa
6.3 Menggambar perspektif
6.4 Menggambar objek
6.5 Menggambar ilustrasi.
7. Menguasai cara menggambar kunci untuk animasi
7.1 Menjelaskan syarat animasi
7.2 Membuat gambar kunci
7.3 Mengatur dan melengkapi gambar kunci.
8. Menguasai cara menggambar clean-up dan sisip
8.1 Mendeskripsikan gambar yang asli
8.2 Membuat gambar-gambar asli
8.3 Mendeskripsikan gambar tiga dimensi
8.4 Membuat gambar tiga dimensi.
9. Menguasai dasar animasi stop-motion (bidang datar)
9.1 Mendeskripsikan syarat-syarat animasi
9.2 Membuat model warna dan tempat warna.
10. Menggabungkan teks kedalam sajian multimedia
10.1 Menggunakan software teks multimedia
10.2 Mendesain teks multimedia.
11. Menggabungkan gambar 2D kedalam sajian multimedia
11.1 Mengedit gambar digital
11.2 Menggunakan software grafik multimedia 2D
11.3 Menciptakan design grafik Multimedia 2D
11.4 Menampilkan karya seni digital 2D.
12. Menggabungkan fotografi digital kedalam sajian multimedia
12.1 Menggunakan kamera digital
12.2 Menggabungkan foto digital kedalam rangkaian Multimedia
12.3 Menciptakan susunan karya seni foto digital dan grafik 2D.
13. Menggabungkan audio ke dalam sajian multimedia
13.1 Menjabarkan format audio digital
13.2 Menggunakan software audio digital
13.3 Merancang audio digital
13.4 Membangun track audio digital.
14. Membuat story board aplikasi multimedia
14.1 Mengidentifikasi kebutuhan
14.2 Merencanakan alur isi story board
14.3 Medeskripsikan proses pelaksanaan dalam story board.
15. Memahami cara penggunaan peralatan tata cahaya.
15.1 Menjelaskan dasar tata cahaya
15.2 Menjelaskan efek cahaya
15.3 Menyiapkan operasi lighting
16. Menerapkan efek khusus pada objek produksi
16.1 Mengidentifikasikan materi penunjang efek khusus
16.2 Menginstallasi software efek khusus
16.3 Membuat efek khusus pada obyek.
17. Menyusun proposal penawaran
17.1 Menganalisa syarat-syarat proyek
17.2 Mengidentifikasi keterampilan yang sesuai dengan persyaratan laporan
17.3 Membuat rancangan biaya biaya dan sumber sumber yang ada
17.4 Membuat proposal
17.5 Membuat pengajuan permohonan tender.
KOMPETENSI KEAHILAN TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN
DAFTAR DASAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK) DAN KOMPETENSI KEJURUAN (KK)
SMK MUHAMMADIYAH KUDUS
BIDANG STUDI KEAHLIAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI KEAHLIAN : TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA
KOMPETENSI KEAHLIAN : TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN (071)
A. DASAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK)
1. Merakit personal computer
1.1 Merencanakan kebutuhan dan spesifikas
1.2 Melakukan instalasi komponen PC
1.3 Melakukan keselamatan kerja dalam merakit komputer
1.4 Mengatur komponen PC menggunakan software (melalui setup BIOS dan aktifasi komponen sistem operasi).
1.5 Menyambung periferal menggunakan Software
1.6 Memeriksa hasil perakitan PC dan pemasangan periferal.
2. Melakukan instalasi sistem operasi dasar
2.1 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi
2.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
2.3 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
2.4 Melakukan troubleshooting.
3. Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
3.1 Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
3.2 Melaksanakan prosedur K3
3.3 Menerapkan konsep lingkungan hidup
3.4 Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan.
B. KOMPETENSI KEJURUAN (KK) (071)
1. Menerapkan teknik elektronika analog dan digital dasar
1.2 Menerapkan teori kelistrikan
1.3 Mengenal komponen elektronika
1.4 Menggunakan komponen elektronika
1.5 Menerapkan konsep elektronika digital
1.6 Menerapkan sistem bilangan digital
1.7 Menerapkan elektronika digital untuk komputer.
2. Menerapkan fungsi peripheral dan instalasi PC
2.1 Mengidentifikasi macam-macam periferal dan fungsinya
2.2 Menyambung/memasang periferal (secara fisik) dan periferal setup menggunakan software
2.3 Melakukan tindakan korektif.
3. Mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC dan periferal
3.1 Mengidentifikasi masalah melalui gejala yang muncul
3.2 Mengklasifikasikan masalah berdasarkan kelompoknya
3.3 Mengisolasi permasalahan.
4. Melakukan perbaikan dan/ atau setting ulang sistem PC
4.1 Menjelaskan langkah perbaikan PC
4.2 Memperbaiki PC
4.3 Memeriksa hasil perbaikan sistem PC.
5. Melakukan perbaikan periferal
5.1 Menjelaskan langkah perbaikan periferal yang bermasalah
5.2 Memperbaiki periferal
5.3 Memeriksa hasil perbaikan periferal.
6. Melakukan perawatan PC
6.1 Menjelaskan langkah perawatan PC
6.2 Melakukan perawatan PC
6.3 Memeriksa hasil perawatan PC
6.4 Melakukan tindakan korektif.
7. Melakukan instalasi sistem operasi berbasis graphical user interface (GUI) dan command line interface (CLI)
7.1 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi berbasis GUI (Graphical User Interface)
7.2 Melaksanakan instalasi sistem operasi berbasis GUI sesuai Installation Manual
7.3 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi berbasis command line interface (CLI)
7.4 Melaksanakan instalasi sistem operasi berbasis text sesuai Installation Manual.
8. Melakukan instalasi software
8.1 Menjelaskan langkah instalasi software
8.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
8.3 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
8.4 Melakukan troubleshooting.
9. Melakukan instalasi perangkat jaringan lokal (Local Area Network)
9.1 Menentukan persyaratan pengguna
9.2 Membuat desain awal jaringan
9.3 Mengevaluasi lalu lintas jaringan
9.4 Menyelesaikan disain jaringan.
10. Mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC yang tersambung jaringan
10.1 Mengidentifikasi masalah melalui gejala yang muncul
10.2 Menganalisa gejala kerusakan
10.3 Melokalisasi daerah kerusakan
10.4 Mengisolasi permasalahan.
11. Melakukan perbaikan dan/ atau setting ulang koneksi jaringan
11.1 Menjelaskan langkah persiapan untuk setting ulang koneksi jaringan
11.2 Melakukan perbaikan koneksi jaringan
11.3 Melakukan setting ulang koneksi jaringan
11.4 Memeriksa hasil perbaikan koneksi jaringan.
12. Melakukan instalasi sistem operasi jaringan berbasis GUI (Graphical User Interface) dan Text
12.1 Menjelaskan langkah instalasi software
12.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
12.3 Mengkonfigurasi jaringan pada sistem operasi
12.4 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
12.5 Melakukan troubleshooting.
13. Melakukan instalasi perangkat jaringan berbasis luas (Wide Area Network)
13.1 Menjelaskan persyaratan WAN13.2 Mengidentifikasi spesifikasi WAN
13.3 Membuat disain awal jaringan WAN
13.4 Mengevaluasi lalu lintas jaringan
13.5 Menyelesaikan disain jaringan.
14. Mendiagnosis permasalahan perangkat yang tersambung jaringan berbasis luas (Wide Area Network)
14.1 Mengidentifikasi masalah melalui gejala yang muncul
14.2 Memilah masalah berdasarkan kelompoknya
14.3 Melokalisasi daerah kerusakan
14.4 Mengisolasi masalah
14.5 Menyelesaikan masalah yang timbul.
15. Membuat desain sistem keamanan jaringan
15.1 Menentukan jenis jenis keamanan jaringan
15.2 Memasang firewall
15.3 Mengidentifikasi pengendalian jaringan yang diperlukan
15.4 Mendesain sistem keamanan jaringan.
16. Melakukan perbaikan dan/ atau setting ulang koneksi jaringan berbasis luas (Wide Area Network)
16.1 Menjelaskan langkah persiapan untuk setting ulang koneksi jaringan
16.2 Melakukan perbaikan koneksi jaringan
16.3 Melakukan setting ulang koneksi jaringan
16.4 Memeriksa hasil perbaikan koneksi jaringan.
17. Mengadministrasi server dalam jaringan
17.1 Memilih aplikasi untuk server17.2 Memilih sistem operasi untuk jaringan
17.3 Memilih komponen server
17.4 Menetapkan spesifikasi server
17.5 Membangun dan mengkonfigurasi server
17.6 Menguji server
17.7 Memonitor kinerja jaringan.
18. Merancang bangun dan menganalisa Wide Area Network
18.1 Mengkonfirmasi kebutuhan klien dan perangkat jaringan
18.2 Meninjau masalah keamanan
18.3 Memasang dan mengkonfigurasi produk dan perangkat gateway
18.4 Mengkonfigurasi dan menguji titik jaringan
18.5 Mengimplementasi perubahan.
19. Merancang web data base untuk content server
19.1 Menentukan kebutuhan sistem1
9.2 Menentukan prosedur recovery
19.3 Merancang arsitektur basis data
19.4 Mengklasifikasikan penggunaan basis data.
SMK MUHAMMADIYAH KUDUS
BIDANG STUDI KEAHLIAN : TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI KEAHLIAN : TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA
KOMPETENSI KEAHLIAN : TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN (071)
A. DASAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK)
1. Merakit personal computer
1.1 Merencanakan kebutuhan dan spesifikas
1.2 Melakukan instalasi komponen PC
1.3 Melakukan keselamatan kerja dalam merakit komputer
1.4 Mengatur komponen PC menggunakan software (melalui setup BIOS dan aktifasi komponen sistem operasi).
1.5 Menyambung periferal menggunakan Software
1.6 Memeriksa hasil perakitan PC dan pemasangan periferal.
2. Melakukan instalasi sistem operasi dasar
2.1 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi
2.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
2.3 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
2.4 Melakukan troubleshooting.
3. Menerapkan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH)
3.1 Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
3.2 Melaksanakan prosedur K3
3.3 Menerapkan konsep lingkungan hidup
3.4 Menerapkan ketentuan pertolongan pertama pada kecelakaan.
B. KOMPETENSI KEJURUAN (KK) (071)
1. Menerapkan teknik elektronika analog dan digital dasar
1.2 Menerapkan teori kelistrikan
1.3 Mengenal komponen elektronika
1.4 Menggunakan komponen elektronika
1.5 Menerapkan konsep elektronika digital
1.6 Menerapkan sistem bilangan digital
1.7 Menerapkan elektronika digital untuk komputer.
2. Menerapkan fungsi peripheral dan instalasi PC
2.1 Mengidentifikasi macam-macam periferal dan fungsinya
2.2 Menyambung/memasang periferal (secara fisik) dan periferal setup menggunakan software
2.3 Melakukan tindakan korektif.
3. Mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC dan periferal
3.1 Mengidentifikasi masalah melalui gejala yang muncul
3.2 Mengklasifikasikan masalah berdasarkan kelompoknya
3.3 Mengisolasi permasalahan.
4. Melakukan perbaikan dan/ atau setting ulang sistem PC
4.1 Menjelaskan langkah perbaikan PC
4.2 Memperbaiki PC
4.3 Memeriksa hasil perbaikan sistem PC.
5. Melakukan perbaikan periferal
5.1 Menjelaskan langkah perbaikan periferal yang bermasalah
5.2 Memperbaiki periferal
5.3 Memeriksa hasil perbaikan periferal.
6. Melakukan perawatan PC
6.1 Menjelaskan langkah perawatan PC
6.2 Melakukan perawatan PC
6.3 Memeriksa hasil perawatan PC
6.4 Melakukan tindakan korektif.
7. Melakukan instalasi sistem operasi berbasis graphical user interface (GUI) dan command line interface (CLI)
7.1 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi berbasis GUI (Graphical User Interface)
7.2 Melaksanakan instalasi sistem operasi berbasis GUI sesuai Installation Manual
7.3 Menjelaskan langkah instalasi sistem operasi berbasis command line interface (CLI)
7.4 Melaksanakan instalasi sistem operasi berbasis text sesuai Installation Manual.
8. Melakukan instalasi software
8.1 Menjelaskan langkah instalasi software
8.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
8.3 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
8.4 Melakukan troubleshooting.
9. Melakukan instalasi perangkat jaringan lokal (Local Area Network)
9.1 Menentukan persyaratan pengguna
9.2 Membuat desain awal jaringan
9.3 Mengevaluasi lalu lintas jaringan
9.4 Menyelesaikan disain jaringan.
10. Mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC yang tersambung jaringan
10.1 Mengidentifikasi masalah melalui gejala yang muncul
10.2 Menganalisa gejala kerusakan
10.3 Melokalisasi daerah kerusakan
10.4 Mengisolasi permasalahan.
11. Melakukan perbaikan dan/ atau setting ulang koneksi jaringan
11.1 Menjelaskan langkah persiapan untuk setting ulang koneksi jaringan
11.2 Melakukan perbaikan koneksi jaringan
11.3 Melakukan setting ulang koneksi jaringan
11.4 Memeriksa hasil perbaikan koneksi jaringan.
12. Melakukan instalasi sistem operasi jaringan berbasis GUI (Graphical User Interface) dan Text
12.1 Menjelaskan langkah instalasi software
12.2 Melaksanakan instalasi software sesuai Installation Manual
12.3 Mengkonfigurasi jaringan pada sistem operasi
12.4 Mengecek hasil instalasi menggunakan software (sampling)
12.5 Melakukan troubleshooting.
13. Melakukan instalasi perangkat jaringan berbasis luas (Wide Area Network)
13.1 Menjelaskan persyaratan WAN13.2 Mengidentifikasi spesifikasi WAN
13.3 Membuat disain awal jaringan WAN
13.4 Mengevaluasi lalu lintas jaringan
13.5 Menyelesaikan disain jaringan.
14. Mendiagnosis permasalahan perangkat yang tersambung jaringan berbasis luas (Wide Area Network)
14.1 Mengidentifikasi masalah melalui gejala yang muncul
14.2 Memilah masalah berdasarkan kelompoknya
14.3 Melokalisasi daerah kerusakan
14.4 Mengisolasi masalah
14.5 Menyelesaikan masalah yang timbul.
15. Membuat desain sistem keamanan jaringan
15.1 Menentukan jenis jenis keamanan jaringan
15.2 Memasang firewall
15.3 Mengidentifikasi pengendalian jaringan yang diperlukan
15.4 Mendesain sistem keamanan jaringan.
16. Melakukan perbaikan dan/ atau setting ulang koneksi jaringan berbasis luas (Wide Area Network)
16.1 Menjelaskan langkah persiapan untuk setting ulang koneksi jaringan
16.2 Melakukan perbaikan koneksi jaringan
16.3 Melakukan setting ulang koneksi jaringan
16.4 Memeriksa hasil perbaikan koneksi jaringan.
17. Mengadministrasi server dalam jaringan
17.1 Memilih aplikasi untuk server17.2 Memilih sistem operasi untuk jaringan
17.3 Memilih komponen server
17.4 Menetapkan spesifikasi server
17.5 Membangun dan mengkonfigurasi server
17.6 Menguji server
17.7 Memonitor kinerja jaringan.
18. Merancang bangun dan menganalisa Wide Area Network
18.1 Mengkonfirmasi kebutuhan klien dan perangkat jaringan
18.2 Meninjau masalah keamanan
18.3 Memasang dan mengkonfigurasi produk dan perangkat gateway
18.4 Mengkonfigurasi dan menguji titik jaringan
18.5 Mengimplementasi perubahan.
19. Merancang web data base untuk content server
19.1 Menentukan kebutuhan sistem1
9.2 Menentukan prosedur recovery
19.3 Merancang arsitektur basis data
19.4 Mengklasifikasikan penggunaan basis data.
KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK KENDARAAN RINGAN
DAFTAR DASAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK) DAN KOMPETENSI KEJURUAN (KK)
SMK MUHAMMADIYAH KUDUS
BIDANG STUDI KEAHLIAN : TEKNOLOGI DAN REKAYASA
PROGRAM STUDI KEAHLIAN : TEKNIK OTOMOTIF
KOMPETENSI KEAHLIAN : TEKNIK KENDARAAN RINGAN (020)
A. DASAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK)
1. Memahami dasar-dasar mesin
1.1 Menjelaskan dasar ilmu statika dan tegangan
1.2 Menerangkan komponen/elemen mesin
1.3 Menerangkan material dan kemampuan proses.
2. Memahami proses-proses dasar pembentukan logam
2.1 Menjelaskan proses pengecoran
2.2 Menjelaskan proses pembentukan
2.3 Menjelaskan proses pemesinan.
3. Menjelaskan proses-proses mesin konversi energi
3.1 Menjelaskan konsep motor bakar
3.2 Menjelaskan konsep motor listrik
3.3 Menjelaskan konsep generator listrik
3.4 Menjelaskan konsep pompa fluida
3.5 Menjelaskan konsep kompresor
3.6 Menjelaskan konsep refrigerasi
4. Menginterpretasikan gambar teknik
4.1 Menjelaskan standar menggambar teknik
4.2 Menggambar perspektif, proyeksi, pandangan dan potongan
4.3 Menjelaskan simbol-simbol kelistrikan
4.4 Membaca wiring diagram
4.5 Menginterpretasikan gambar teknik dan rangkaian.
5. Menggunakan peralatan dan perlengkapan di tempat kerja
5.1 Merawat peralatan dan perlengkapan perbaikan di tempat kerja.
5.2 Menggunakan peralatan dan perlengkapan perbaikan
5.3 Menggunakan fastener.
6. Menggunakan alat-alat ukur (measuring tools)
6.1 Mengidentifikasi alat-alat ukur
6.2 Menggunakan alat-alat ukur mekanik
6.3 Menggunakan alat-alat ukur pneumatik
6.4 Menggunakan alat-alat ukur elektrik/elektronik
6.5 Merawat alat-alat ukur.
7. Menerapkan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan tempat kerja
7.1 Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
7.2 Melaksanakan prosedur K3
7.3 Mengidentifikasi aspek-aspek keamanan kerja
7.4 Mengontrol kontaminasi
7.5 Mendemonstrasikan pemadaman kebakaran
7.6 Melakukan pengangkatan benda kerja secara manual.
7.7 Menerapkan pekerjaan sesuai dengan SOP.
B. KOMPETENSI KEJURUAN (KK)
1. Memperbaiki sistem hidrolik dan kompresor udara
1.1 Mengidentifikasi sistem hidraulik
1.2 Memasang sistem hidraulik
1.3 Menguji sistem hidraulik
1.4 Memeliharan sistem hidraulik
1.5 Memelihara kompresor udara dan komponen-komponennya
1.6 Memperbaiki kompresor udara dan komponen-komponennya.
2. Melaksanakan prosedur pengelasan, pematrian, pemotongan dengan panas dan pemanasan 2.1 Melaksanakan prosedur pengelasan
2.2 Melaksanakan prosedur pematrian
2.3 Melaksanakan prosedur pemotongan dengan panas
2.4 Melaksanakan prosedur pemanasan.
3. Mlakukan overhaul sistem pendingin dan komponen– komponennya
3.1 Memelihara/servis sistem pendingin dan komponennya
3.2 Memperbaiki sistem pendingin dan komponennya
3.3 Melakukan overhaul sistem pendingin dan komponennya.
4. Memelihara/servis sistem bahan bakar bensin
4.1 Memelihara komponen sistem bahan bakar bensin
4.2 Memperbaiki komponen sistem bahan bakar bensin.
5. Memperbaiki sistem injeksi bahan bakar diesel
5.1 Memelihara/servis sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel
5.2 Memperbaiki komponen injeksi bahan bakar diesel
5.3 Mengkalibrasi Pompa Injeksi.
6. Memeliharaan/servis engine dan komponen-komponen-nya
6.1 Mengidentifikasi komponen-komponen Utama engine
6.2 Mengidentifikasi komponen-komponen engine
6.3 Memelihara/servis engine dan komponen-komponennya (engine tune up)
6.4 Melaksanaan pemeliharaan/servis komponen
6.5 Menggunakan pelumas/cairan pembersih.
7. Memperbaiki unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian
7.1 Memelihara/servis unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian
7.2 Memperbaiki sistem kopling dan komponennya
7.3 Mengoverhaul sistem kopling dan komponennya.
8. Memelihara transmisi
8.1 Mengidentifikasi transmisi manual dan komponen-komponennya
8.2 Mengidentifikasi transmisi otomatis dan komponen-komponennya
8.3 Memelihara transmisi manual dan komponen-komponennya
8.4 Memelihara transmisi otomatis dan komponen-komponennya.
9. Memelihara unit final drive/gardan
9.1 Mengidentifikasi unit final drive; penggerak roda depan, belakang dan Four Wheel drive
9.2 Memelihara unit final drive penggerak roda depan
9.3 Memelihara unit final drive penggerak roda belakang
9.4 Memelihara unit final drive penggerak empat roda.
10. Memperbaiki poros penggerak roda
10.1 Memelihara/servis poros penggerak roda/drive shaft dan komponen-komponennya
10.2 Memperbaiki poros penggerak roda/drive shaft dan komponen-komponennya.
11. Memperbaiki roda dan ban
11.1 Mengidentifikasi konstrusksi roda dan ban serta sistem pemasangan
11.2 Memeriksa roda
11.3 Memasang ulang roda
11.4 Memeriksa ban
11.5 Memasang ulang ban
11.6 Membalans roda dan ban.
12. Memperbaiki sistem rem
12.1 Memelihara sistem rem dan komponennya
12.2 Memperbaiki sistem rem dan komponennya
12.3 Melakukan overhaul sistem rem.
13. Memperbaiki sistem kemudi
13.1 Mengidentifikasi berbagai jenis sistem kemudi
13.2 Memeriksa kondisi sistem/komponen kemudi
13.3 Memperbaiki berbagai jenis sistem kemudi.
14. Memperbaiki sistem suspensi
14.1 Memeriksa sistem suspensi dan komponen-komponenya
14.2 Merawat sistem suspensi dan komponen-komponennya
14.3 Memperbaiki sistem suspensi dan komponen-komponennya.
15. Memelihara baterai
15.1 Menguji baterai
15.2 Memperbaiki baterai
15.3 Merawat baterai
15.4 Menjumper baterai.
16. Memperbaiki kerusakan ringan pada rangkaian/ sistem kelistrikan, pengaman dan kelengkapan tambahan
16.1 Mengidentifikasi kesalahan sistem/komponen kelistrikan dan pengaman
16.2 Memasang sistem pengaman kelistrikan
16.3 Memperbaiki sistem pengaman kelistrikan dan komponennya
16.4 Memasang sistem penerangan dan wiring kelistrikan
16.5 Menguji sistem kelistrikan dan penerangan
16.6 Memperbaiki wiring kelistrikan dan penerangan
16.7 Memasang perlengkapan kelistrikan tambahan.
17. Memperbaiki sistem pengapian
17.1 Mengidentifikasi sistem pengapian dan komponennya
17.2 Memperbaiki sistem pengapian dan komponennya.
18. Memperbaiki sistim starter dan pengisian
18.1 Mengidentifikasi sistem starter18.2 Mengidentifikasi sistem pengisian
18.3 Memperbaiki sistem starter dan komponen-komponennya
18.4 Memperbaiki sistem pengisian dan komponen-komponennya.
19. Memelihara/servis sistem AC (Air Conditioner)
19.1 Mengidentifikasi sistem AC dan komponennya
19.2 Melakukan servis sistem AC dan komponennya.
SMK MUHAMMADIYAH KUDUS
BIDANG STUDI KEAHLIAN : TEKNOLOGI DAN REKAYASA
PROGRAM STUDI KEAHLIAN : TEKNIK OTOMOTIF
KOMPETENSI KEAHLIAN : TEKNIK KENDARAAN RINGAN (020)
A. DASAR KOMPETENSI KEJURUAN (DKK)
1. Memahami dasar-dasar mesin
1.1 Menjelaskan dasar ilmu statika dan tegangan
1.2 Menerangkan komponen/elemen mesin
1.3 Menerangkan material dan kemampuan proses.
2. Memahami proses-proses dasar pembentukan logam
2.1 Menjelaskan proses pengecoran
2.2 Menjelaskan proses pembentukan
2.3 Menjelaskan proses pemesinan.
3. Menjelaskan proses-proses mesin konversi energi
3.1 Menjelaskan konsep motor bakar
3.2 Menjelaskan konsep motor listrik
3.3 Menjelaskan konsep generator listrik
3.4 Menjelaskan konsep pompa fluida
3.5 Menjelaskan konsep kompresor
3.6 Menjelaskan konsep refrigerasi
4. Menginterpretasikan gambar teknik
4.1 Menjelaskan standar menggambar teknik
4.2 Menggambar perspektif, proyeksi, pandangan dan potongan
4.3 Menjelaskan simbol-simbol kelistrikan
4.4 Membaca wiring diagram
4.5 Menginterpretasikan gambar teknik dan rangkaian.
5. Menggunakan peralatan dan perlengkapan di tempat kerja
5.1 Merawat peralatan dan perlengkapan perbaikan di tempat kerja.
5.2 Menggunakan peralatan dan perlengkapan perbaikan
5.3 Menggunakan fastener.
6. Menggunakan alat-alat ukur (measuring tools)
6.1 Mengidentifikasi alat-alat ukur
6.2 Menggunakan alat-alat ukur mekanik
6.3 Menggunakan alat-alat ukur pneumatik
6.4 Menggunakan alat-alat ukur elektrik/elektronik
6.5 Merawat alat-alat ukur.
7. Menerapkan prosedur keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan tempat kerja
7.1 Mendeskripsikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
7.2 Melaksanakan prosedur K3
7.3 Mengidentifikasi aspek-aspek keamanan kerja
7.4 Mengontrol kontaminasi
7.5 Mendemonstrasikan pemadaman kebakaran
7.6 Melakukan pengangkatan benda kerja secara manual.
7.7 Menerapkan pekerjaan sesuai dengan SOP.
B. KOMPETENSI KEJURUAN (KK)
1. Memperbaiki sistem hidrolik dan kompresor udara
1.1 Mengidentifikasi sistem hidraulik
1.2 Memasang sistem hidraulik
1.3 Menguji sistem hidraulik
1.4 Memeliharan sistem hidraulik
1.5 Memelihara kompresor udara dan komponen-komponennya
1.6 Memperbaiki kompresor udara dan komponen-komponennya.
2. Melaksanakan prosedur pengelasan, pematrian, pemotongan dengan panas dan pemanasan 2.1 Melaksanakan prosedur pengelasan
2.2 Melaksanakan prosedur pematrian
2.3 Melaksanakan prosedur pemotongan dengan panas
2.4 Melaksanakan prosedur pemanasan.
3. Mlakukan overhaul sistem pendingin dan komponen– komponennya
3.1 Memelihara/servis sistem pendingin dan komponennya
3.2 Memperbaiki sistem pendingin dan komponennya
3.3 Melakukan overhaul sistem pendingin dan komponennya.
4. Memelihara/servis sistem bahan bakar bensin
4.1 Memelihara komponen sistem bahan bakar bensin
4.2 Memperbaiki komponen sistem bahan bakar bensin.
5. Memperbaiki sistem injeksi bahan bakar diesel
5.1 Memelihara/servis sistem dan komponen injeksi bahan bakar diesel
5.2 Memperbaiki komponen injeksi bahan bakar diesel
5.3 Mengkalibrasi Pompa Injeksi.
6. Memeliharaan/servis engine dan komponen-komponen-nya
6.1 Mengidentifikasi komponen-komponen Utama engine
6.2 Mengidentifikasi komponen-komponen engine
6.3 Memelihara/servis engine dan komponen-komponennya (engine tune up)
6.4 Melaksanaan pemeliharaan/servis komponen
6.5 Menggunakan pelumas/cairan pembersih.
7. Memperbaiki unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian
7.1 Memelihara/servis unit kopling dan komponen-komponen sistem pengoperasian
7.2 Memperbaiki sistem kopling dan komponennya
7.3 Mengoverhaul sistem kopling dan komponennya.
8. Memelihara transmisi
8.1 Mengidentifikasi transmisi manual dan komponen-komponennya
8.2 Mengidentifikasi transmisi otomatis dan komponen-komponennya
8.3 Memelihara transmisi manual dan komponen-komponennya
8.4 Memelihara transmisi otomatis dan komponen-komponennya.
9. Memelihara unit final drive/gardan
9.1 Mengidentifikasi unit final drive; penggerak roda depan, belakang dan Four Wheel drive
9.2 Memelihara unit final drive penggerak roda depan
9.3 Memelihara unit final drive penggerak roda belakang
9.4 Memelihara unit final drive penggerak empat roda.
10. Memperbaiki poros penggerak roda
10.1 Memelihara/servis poros penggerak roda/drive shaft dan komponen-komponennya
10.2 Memperbaiki poros penggerak roda/drive shaft dan komponen-komponennya.
11. Memperbaiki roda dan ban
11.1 Mengidentifikasi konstrusksi roda dan ban serta sistem pemasangan
11.2 Memeriksa roda
11.3 Memasang ulang roda
11.4 Memeriksa ban
11.5 Memasang ulang ban
11.6 Membalans roda dan ban.
12. Memperbaiki sistem rem
12.1 Memelihara sistem rem dan komponennya
12.2 Memperbaiki sistem rem dan komponennya
12.3 Melakukan overhaul sistem rem.
13. Memperbaiki sistem kemudi
13.1 Mengidentifikasi berbagai jenis sistem kemudi
13.2 Memeriksa kondisi sistem/komponen kemudi
13.3 Memperbaiki berbagai jenis sistem kemudi.
14. Memperbaiki sistem suspensi
14.1 Memeriksa sistem suspensi dan komponen-komponenya
14.2 Merawat sistem suspensi dan komponen-komponennya
14.3 Memperbaiki sistem suspensi dan komponen-komponennya.
15. Memelihara baterai
15.1 Menguji baterai
15.2 Memperbaiki baterai
15.3 Merawat baterai
15.4 Menjumper baterai.
16. Memperbaiki kerusakan ringan pada rangkaian/ sistem kelistrikan, pengaman dan kelengkapan tambahan
16.1 Mengidentifikasi kesalahan sistem/komponen kelistrikan dan pengaman
16.2 Memasang sistem pengaman kelistrikan
16.3 Memperbaiki sistem pengaman kelistrikan dan komponennya
16.4 Memasang sistem penerangan dan wiring kelistrikan
16.5 Menguji sistem kelistrikan dan penerangan
16.6 Memperbaiki wiring kelistrikan dan penerangan
16.7 Memasang perlengkapan kelistrikan tambahan.
17. Memperbaiki sistem pengapian
17.1 Mengidentifikasi sistem pengapian dan komponennya
17.2 Memperbaiki sistem pengapian dan komponennya.
18. Memperbaiki sistim starter dan pengisian
18.1 Mengidentifikasi sistem starter18.2 Mengidentifikasi sistem pengisian
18.3 Memperbaiki sistem starter dan komponen-komponennya
18.4 Memperbaiki sistem pengisian dan komponen-komponennya.
19. Memelihara/servis sistem AC (Air Conditioner)
19.1 Mengidentifikasi sistem AC dan komponennya
19.2 Melakukan servis sistem AC dan komponennya.
Langgan:
Entri (Atom)