Selasa, 28 Februari 2017

Berhentilah Jadi Gelas

Berhentilah Jadi Gelas Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Oleh: Iqbal Damawi

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya. “Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”

Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru. “Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan. “Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke
... baca selengkapnya di Berhentilah Jadi Gelas Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 26 Februari 2017

Hari Terakhir Untuk Salma

Hari Terakhir Untuk Salma Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Hari ini cukup cerah, hari yang sangat menyenangkan untuk pergi ke sekolah. Namun tidak untuk salma. seorang gadis kecil yang imut dan lucu itu tak bisa bersekolah karena harus menjaga kakeknya yang sakit keras. Sebenarnya ia ingin masuk sekolah tapi ia tidak ingin kakeknya kenapa-napa. Jadi ia urungkan niat sekolahnya.

“salma, kamu tidak sekolah?” tegur sang kakek.
“tidak kek. Salma ingin jaga kakek.” jawab salma sambil mengusap air mata.
“kakek istirahat dulu ya?. Salma mau beli nasi uduk dulu.” Lanjut gadis kecil itu.

Salma pergi ke tempat penjual nasi uduk lalu membelinya dan pulang. Sampai di tengah jalan ada sebuah mobil menabrak tubuh salma. Aaakkkhhh!!!. saat itu juga salma pingsan. Pengemudi mobil itu segera turun dan melihat keadaan salma yang tergeletak di depan mobilnya dengan luka di bagian kepala dan tangan lecet-lecet.
“pa! gimana ini?” Tanya seorang wanita panik.
“sekarang kita bawa ke rumah sakit saja, ma?” tegas sang suami.
“ayo pa?!” ajak sang istri dan membukakan pint
... baca selengkapnya di Hari Terakhir Untuk Salma Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Sabtu, 18 Februari 2017

Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai

Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

1LIMA PERAJURIT berkuda berderap memasuki halaman rumah yang penuh ditumbuhi pohon singkong. Mereka memiliki tampang-tampang galak, membekal golok besar di pinggang masing-masing. Begitu sampai di depan rumah papan beratap rumbia, kelimanya langsung melompat turun. Yang didepan sekali menendang pintu rumah sambil berteriak:

"Adi Sara! Kami perajurit Kadipaten datang membawa surat perintah penangkapan!"

Pintu rumah terpental tanggal. Perajurit yang menendang langsung masuk diikuti dua orang temannya. Dua lagi menunggu di luar berjaga-jaga dengan tangan menekan hulu golok. Di dalam rumah, ketika dikejauhan terdengar derap kaki lima perajurit Kadipaten itu, seorang lelaki tua berambut putih memegang bahu seorang pemuda berusia dua puluh tahun seraya berkata:

"Anakku Adi! mimpiku semalam mungkin akan menjadi kenyataan. Aku dengar suara derap kaki-kaki kuda dikejauhan. Menuju ke rumah kita ini. Hampir pas
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Senin, 31 Desember 2012

Memperbaiki alat rekam (mikropone)

CARA MEMPERBAIKI MIK/MIC/MICROPHONE/MIKROPHONE Ada dua macam Mikrophone menurut koneksinya yaitu mikrophone yang memakai kabel dan mikrophone tanpa kabel atau Wireles. Mikrophone yang akan kita bahas kali ini adalah mikrophone kabel. Beberapa kerusakan/keluhan yang sering dijumpai pada jenis mik ini diantaranya: a.Tidak ada bunyi sama sekali atau mati total. b.Kadang-kadang nyala kadang-kadang mati, menyala bila kabelnya digerak-gerakan atau dibengkokkan. c.Bila sedang dipegang mengeluarkan suara yang berisik seperti suara tikus yang keluar dari pengeras suara/speaker. Sebelum mulai memperbaiki alangkah baiknya kita siapkan dulu peralatan pendukungnya yaitu: 1.Obeng plus ukuran kecil 2.AVO meter 3.Timah 4.Tang buaya/tang monyong. 5.Pisau cutter. 6.Solder listrik 1. Tidak ada bunyi/mati total Penyebabnya bisa bermacam-macam mulai dari lilitan mik yang putus, putusnya kabel penghubung konektor ke lilitan mik sampai kabel miknya yang putus, maka dari itu memperbaikinyapun harus diurut satu persatu.mulailah dengan: a.Mencabut mik dari kabelnya, kemudian ganti dengan kabel mik lain yang masih bagus, b.Bila mik tidak berfungsi(tidak keluar suara dari pengeras suara) berarti miknya yang rusak c.Untuk memperbaikinya cobalah untuk membuka konektor mik yang ada di dalam batang mik dengan melonggarkan sekrup kecil yang ada di bagian luar mik, lalu cabut pelan-pelan konektornya,hati-hatilah saat mencabut karena kabel konektor sangat pendek, bila anda tergesa-gesa maka kabelnya akan putus. d.Periksalah kabel dari mulai konektor sampai lilitan/spul apakah tersambung baik, bila masih terhubung dengan baik maka tahap selanjutnya adalah e.Mengukur konektor 1 dan 2 memakai AVO meter RX1, bila jarum AVO meter tidak bergerak maka lilitan/spull mik putus gantilah dengan yang baru. f.Bila mik berfungsi dengan baik berarti kabelnya yang rusak. Untuk memperbaiki kabel mik periksalah mulai dari jack mik, kabel mik, sampai jack 1/4" mungkin ada di antara ketiga komponen itu yang putus. untuk mengukur kabel cobalah menggunakan AVO meter RX1, bila jarum AVO meter diam maka kabel mic putus dan bila jarum AVO meter bergerak ke nol dan diam maka kabel masih dalam keadaan baik. 2. Kadang-kadang menyala kadang-kadang mati (menyala bila kabelnya digerak-gerakkan atau dibengkokkan). Biasanya gejala ini diakibatkan oleh terputusnya kabel mik atau konektor tapi jarak kedua ujung yang putus itu dekat sekali oleh sebab itu mic kadang-kadang nyala kadang-kadang mati saat digerakkan. cara memperbaikinya ikutilah langkah-langkah pada poin 1. khusus untuk kabel mik kerusakan(putus) ada pada bagian kabel yang menyala hidup bila kabel bebengkokkan, kupaslah kabelnya dan buang bagian yang putusnya. 3. Bila mic sedang dipegang keluar suara berisik seperti suara tikus dari pengeras suara. Keluhan seperti ini sangat umum terjadi, diakibatkan oleh terputusnya jalur input/positip(jalur ini mengalir pada ujung janck 1/4", bagian tengah kabel mic, pin/terminal no.2 soket atau konektor mic). Untuk memperbaikinya ikutilah tahap-tahap pada poin 1. "Jalur yang mengalir dari mic sampai jack 1/4" terdiri dari dua kabel yaitu input/positip dan ground/negatip". "Komponen mic: lilitan/spull, sakelar dan konektor". "Komponen kabel mic: Jack 1/4", kabel, dan soket mic"

Perbedaan Antara Replikasi dan Duplikasi Disc

Perbedaan Antara Replikasi dan Duplikasi Disc A. Replikasi. Replikasi merupakan Proses Penggandaan Media Disc (CD/DVD) dengan proses pabrikasi. jadi CD dibuat langsung dari bijih plastik dan tercetak beserta isinya langsung. biasanya CD ini sudah sepaket dengan Print offset pada label nya (bukan disablon atau di tempel kertas label). ciri lain dari CD ini adanya Judul CD Pada lingkaran poros kepingan CD. dan kode Barcode kode ISSN dsb. Kelebihan : 1. lebih Elegant 2. dianggap original 3. lebih murah Kekurangan : 1. kualitas kadang kurang baik (tergantung kualitas Bijih plastik dan proses pabrikan) 2. tidak bisa duplikasi dalam jumlah sedikit (minimal 1000pcs) B. Duplikasi Duplikasi adalah proses penggandaan CD/DVD melalui proses Burnning pada Disc kosong. proses ini dilakukan untuk produksi yang relatif sedikit. mesin duplikasi ada yang berbentuk CPU Bertingkat khusus yang terdapat 5 - 10 Disc rom. atau melalui CPU biasa dengan Nero. label pada CD Ini terkadang menggunakan kertas label atau merk Disc tertentu. Kelebihan : 1. Bisa dengan kuantitas sedikit 2. Kualitas lebih baik (tergantung Merk CD Blank) 3. tidak harus repot2 ke pabrik bisa dilakukan dirumah Kekurangan : 1. dianggap bajakan 2. kurang elegant 3. kadang berat diputar di Rom jika menggunakan Label kertas C. Proses Duplikasi DVD Duplikasi adalah proses pencatatan informasi ke 'burnable' cakram, seperti DVDR dan DVD + R (DVD discs) dan BD-R (Blu-ray disc). Ini bermanfaat untuk pekerjaan turnaround cepat atau salinan yang dibutuhkan relatif sedikit. Ini mirip dengan proses produksi massal Replikasi, meski dengan margin yang sedikit lebih tinggi dari kesalahan. Replikasi membutuhkan kamar yang bersih, teknisi dengan jas putih, dan peralatan mahal. Hanya ada segelintir perusahaan di dunia yang benar-benar dapat membuat ini, Manfaat replikasi berada di kompatibilitas cakram dan biaya rendah dalam skala besar.

APA ITU KASET?

APA ITU KASET? A. PENGERTIAN Kaset adalah media penyimpan data yang umumnya berupa lagu. Berasal dari bahasa Perancis, yakni [[cassette]] yang berarti ‘kotak kecil’. Biasa juga disebut ‘pita kaset’. Kaset berupa pita magnetik yang mampu merekam data dengan format suara. Dari tahun 1970 sampai 1990-an, kaset merupakan salah satu format media yang paling umum digunakan dalam industri musik. Kaset terdiri dari kumparan-kumparan kecil. Kumparan-kumparan dan bagian-bagian lainnya ini terbungkus dalam bungkus plastik berbentuk kotak kecil berbentuk persegi panjang. Di dalamnya terdapat sepasang roda putaran untuk pita magnet. Pita ini akan berputar dan menggulung ketika kaset dimainkan atau merekam. Ketika pita bergerak ke salah satu arah dan yang lainnya bergerak ke arah yang lain. Hal ini membuat kaset dapat dimainkan atau merekam di kedua sisinya. Contohnya, side A dan side B. B. TIPE-TIPE KASET Goresan-goresan yang terdapat pada permukaan kaset menjadi indikasi tipe kaset. Kaset yang paling tinggi, hanya memiliki goresan lindungan tulisan merupakan kaset tipe I. Berikutnya, dengan goresan tambahan untuk goresan lindungan tulisan merupakan tipe II. Sedangkan dua tipe kaset berikutnya merupakan perpaduan antara kaset tipe II dengan sepasang tambahan di tengah-tengah kaset merupakan tipe IV. C. MATERI KASET Materi magnet original pada kaset adalah gamma ferik oksida (Fe2O3). Pada 1970, Perusahaan 3M telah mengembangkan kobalt yang dikombinasikan dengan lapisan ganda untuk meningkatkan level output pita kaset secara keseluruhan. Produk ini dipasarkan dengan label & ldquo;High Energy” di bawah brand Scotch. Di saat yang sama, BASF memperkenalkan kromium dioksida (CrO2) yang pelapisannya menggunakan magnetit (Fe3O4). Pada tahun 1974, TDK memperkenalkan [[avylin]] yang terbukti sangat sukses. Pada tahun 1979, akhirnya 3M memperkenalkan partikel metal murni yang dinamakan metafine. Sedangkan kaset-kaset yang sekarang umum dijual terdiri dari ferik oksida dan kobalt yang dicampur dan diproses, karena sangat jarang ada kaset yang dijual yang menggunakan CrO2 murni sebagai lapisannya. D. SEJARAH dan PERKEMBANGAN Kaset pertama kali diperkenalkan oleh Phillips pada tahun 1963 di Eropa dan tahun 1964 di Amerika Serikat, dengan nama Compact Cassete. Kemudian kaset semakin populer di industri musik selama tahun 1970-an dan perlahan-lahan menggeser piringan hitam. Produksi besar kaset diawali pada tahun 1964 di Hanover, Jerman. Pada awalnya, kualitas suara pada kaset ini tidak terlalu bagus untuk musik. Bahkan beberapa model awal tidak memiliki rancangan mesin yang baik. Pada tahun 1971, The Advant Corporation memperkenalkan model terbarunya, Model 201, yang menggabungkan Dolby tipe B pengurang gangguan (noise) dengan pita kromium dioksida. Oleh karena itulah kaset mulai dapat digunakan dalam industri musik secara serius, dan dimulailah era kaset berketepatan tinggi. Selama tahun 1980-an, popularitas kaset tumbuh semakin pesat karena hadirnya rekorder poket portabel pemutarnya seperti Sony’s Walkman. Seperti radio yang menyediakan musik pada 1960-an, pemutar CD portable pada 1990- an, dan MP3 player pada 2000-an, kaset memegang peran besar dalam dunia musik pada 1980-an dan 1990-an, bahkan di era sekarang (setelah 2000-an), kaset masih menjadi salah satu alternatif media musik. Lepas dari segi tekniknya, keberadaan kaset juga berdampak pada perubahan sosial. Keawetan kaset serta kemudahannya untuk dikopi berperan di balik berkembangnya musik punk dan rock. Kaset seakan-akan menjadi pijakan bagi generasi muda di kebudayaan barat. Untuk alasan yang sama pula kaset berkembang pesat di negara-negara berkembang. Pada tahun1970-an, kaset dianggap membawa pengaruh buruk sekularisme di kalangan masyarakat religius India. Teknologi kaset menciptakan pasar yang membludak bagi musik pop di India, menimbulkan kritik dari kaum konservatif dan di waktu yang sama menciptakan pasar besar yang melegitimasi perusahaan-perusahaan rekaman dan pembajakan kaset. E. PENURUNAN POPULARITAS Di banyak negara barat, pasar bagi kaset telah menurun tajam setelah masa puncak kejayaannya di akhir-akhir 1980-an. Welcome to Waena http://www.waena.org Powered by Joomla! Generated: 27 July, 2010, 06:49 Di awal 1990-an popularitas kaset menurun seiring muncul dan berkembangnya compact disc (CD). Di tahun 2000-an penjualan kaset menurun drastis dibandingkan pada tahun 1980-an. Penjualan kaset di Amerika Serikat jatuh drastis di tahun 2006. Semenjak itulah kaset tidak lagi menjadi isu yang menarik bagi industri musik dan major label. Meskipun begitu, di tahun 2008 ini kaset kosong masih diproduksi dan dijual di toko-toko. Baik perekam maupun pemutarnya meskipun semakin hari semakin jarang, masih dapat ditemukan. Perlu diingat bahwa kaset telah mampu diaplikasikan secara spesifik, seperti audio-car, pada tahun 1990-an. Kaset lebih tahan terhadap debu, panas, dan goncangan jika dibandingkan pesaing digital utamanya (CD). Saat perekam suara digital semakin populer, perekam kaset (mikrokaset) cenderung lebih murah Meskipun kaset dan alat-alat lainnya yang berhubungan telah menjadi sesuatu yang dianggap marjinal di industri musik, merekam pada pita analog terkadang masih menjadi suatu pilihan. F. PERKEMBANGAN KASET DI INDONESIA Sebelum 1970-an, dunia musik tanah air menggunakan piringan hitam sebagai sarana untuk mengekspresikan musik. Lokananta di Surakarta dan Irama di Menteng Jakarta merupakan dua perusahaan rekaman pertama di Indonesia. Lokananta, yang merupakan milik pemerintah, berdiri pada tahun 1957. Bertugas untuk memproduksi dan menduplikasi piringan hitam. Namun di tahun 1970-an akhirnya produksi pun bergeser dari piringan hitam ke kaset. Remaco, yang pada masa itu merupakan salah satu perusahaan rekaman besar di Indonesia, mengalami kerugian pada masa awal munculnya kaset di tahun 1970-an. Lagu-lagu dalam piringan hitamnya dibajak ke dalam kaset. Meskipun pada akhirnya Remaco pun memproduksi kaset karena kaset merupakan teknologi yang lebih murah dan praktis dibandingkan dengan piringan hitam yang mahal dan rumit. Meskipun awalnya perusahaan-perusahaan rekaman tersebut mengeluh atas munculnya kaset yang membajak piringan hitam, akhirnya mereka pun—sekaligus perusahaan yang baru muncul— berpaling dan menikmati suatu teknologi baru bernama ‘kaset’ tersebut. Kaset meledak di mana-mana. Para musisi baru di ‘era kaset’ bermunculan dan perlahan menggeser musisi-musisi ‘era piringan hitam&rsquo. Sebut saja Koes Plus, Broery Marantika, dan Emilia Contessa. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan inovasi-inovasi baru di bidang musik, di pertengahan 1990-an, kaset mengalami masa-masa akhir kejayaannya. Masuknya compact disc (CD) ke Indonesia menyediakan alternatif baru dan canggih bagi para penikmat musik. Kualitas suaranya yang lebih jernih dan pemilihan pemutaran lagu yang lebih mudah dan cepat menjadi beberapa kelebihan CD dibandingkan kaset. Meskipun begitu kaset tetap diminati karena harganya yang lebih murah dibandingkan CD. Di tahun 2000-an, kaset pun makin tergencet oleh perkembangan CD. Perusahaan-perusahaan rekaman di tanah air telah menjadikan CD sebagai sarana rekaman musik. Pada perkembangan di Indonesia, kaset tidak hanya digunakan dalam industri musik. Kaset juga biasanya digunakan untuk dakwah-dakwah agama berupa ceramah oleh seorang rohaniawan.

RPP+pendikar = PROSES DUPLKASI

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP Nama Sekolah : SMK Muhammadiyah Kudus Mata Pelajaran : Produktif (Teknik Audio Video) Kelas/Semester : XII/ 6 Pertemuan Ke- : 1 Alokasi Waktu : 4 x 45 ‘ Standar Kompetensi : 1. Membuat rekaman audio di studio Kompetensi Dasar : 1.1 Melakukan proses duplikasi Indikator : 1.Dijelaskan pengertian dari proses duplikasi atau penggandaan 2.Dihasilkan rekaman yang siap untuk diduplikasi I. Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat : 1.menjelaskan perbedaan antara duplikasi disk (penggandaan) dan replikasi disk 2.menyebutkan keuntungan dan kerugian duplikasi disk 3.menyebutkan keuntungan dan kerugian replikasi disk 4.menyebutkan alat-alat duplikasi disk atau penggandaan 5.menjelaskan langkah-langkah proses duplikasi atau penggandaan yang menghasilkan rekaman untuk diduplikasi II.Materi Ajar 1. Proses duplikasi atau penggandaan 2. Macam-macam alat duplikasi III. Metode dan Model Pembelajaran 1. Metode : ceramah, demonstrasi,tanya jawab, penugasan. 2. Model Pembelajaran : Contextual, kolaborasi IV Langkah Pembelajaran 1. Pendahuluan: a.Guru bersama-sama siswa berdoa dengan khusyu dengan menunjuk salah satu siswa memimpin berdoa, memeriksa kehadiran siswa, kebersihan dan kerapian kelas sebagai wujud kepedulian lingkungan. b.Guru memberikan apersepsi keterkaitan antara SK/KD yang akan dibahas. c.Guru menumbuhkan rasa ingin tahu dengan menyampaikan topik dan tujuan pembelajaran tentang pengertian duplikasi dan replikasi, d.Guru memberi motivasi siswa secara komunikatif dan kreatif dengan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pengertian duplikasi dan langkah-langkah proses duplikasi. e.Guru menyampaikan kerangka materi tentang pengertian duplikasi dan langkah- langkah proses duplikasi untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. 2.Kegiatan Inti: 2.1. Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi, guru: a. Melibatkan peserta didik secara mandiri dan bekerja keras mencari informasi yang luas tentang pengertian duplikasi dan langkah-langkah proses duplikasi dari berbagai sumber b. Mengunakan berbagai macam pendekatan pembelajaran dan sumber belajar lain untuk menjelaskan tentang pengertian duplikasi dan langkah-langkah proses duplikasi yang menghasil rekaman untuk diduplikasi. c. Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru sebagai wujud peduli sosial, kerjasama dan persahabatan, lingkungan dan sumber belajar lainnya sebagai wujud peduli lingkungan d. Memfasilitasi peserta didik secara aktif dalam kegiatan pembelajaran secara bertanggung jawab dan mandiri e. Memfasilitasi peserta didik untuk mencari pengertian duplikasi dan langkah- langkah proses duplikasi lewat internet atau media lain untuk menumbuhkan gemar membaca, rasa ingin tahu, disiplin dan kerja keras. 2.3 Elaborasi Dalam kegiatan elaborasi, guru: a. Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam sebagai wujud gemar membaca, kreatif dan rasa ingin tahu melalui tugas tertentu untuk pengertian duplikasi dan langkah-langkah proses duplikasi yang menghasil rekaman untuk diduplikasi. b. Memfasilitasi peserta didik mealui pemberian tugas untuk memunculkan gagasan baru baik secara kreatif dan disiplin tentang pengertian duplikasi dan langkah-langkah proses duplikasi yang menghasil rekaman untuk diduplikasi. c. Memberikan kesempatan untuk berfikir menganalisis sebagai wujud rasa ingin tahu, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut sebagai wujud tanggung jawab untuk menganalisis langkah-langkah proses duplikasi yang menghasil rekaman untuk diduplikasi. d. Memfasilitasi peserta didik dalam pemeblajaran kooperatif dan kolaboratif sebagai wujud toleransi, persahabatan dan komunikatif. e. Memfasilitasi peserta didik berkompetensi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar menganalsisi langkah-langkah proses duplikasi yang menghasilkan rekaman untuk diduplikasi untuk dirinya dan orang lain sebagai wujud menghargai prestasi 2.4 Konfirmasi a. Guru memberikan umpan balik positif kepada siswa dan penguatan dengan tanya jawab berkaitan dengan materi pelajaran pengertian duplikasi dan langkah-langkah proses duplikasi. b. Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik dari berbagai sumber. c. Guru memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperolah pengalaman belajar yng telah dilakukan. d. Guru memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai KD dengan membantu menyelesaikan masalah dan memberikan informasi motivasi peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif terhadap permasalahan/kesulitan tentang pengertian duplikasi dan langkah-langkah proses duplikasi yang menghasilkan rekaman untuk diduplikasi. 3. Penutup a. Guru membimbing siswa secara mandiri untuk membuat rangkuman dari materi pengertian duplikasi dan langkah-langkah proses duplikasi. b. Guru melakukan penilaian (pos test) /refleksi terhadap kegiatan baik dari tugas kelompok maupun tugas mandiri secara bertanggung jawab.. c. Guru memberikan umpan balik terhadap materi pengertian duplikasi dan langkah- langkah proses duplikasi secara demokratis. d. Guru merencanakan tindaklanjut secara mandiri dalam bentuk program remedial, program pengayaan dan memberikan tugas mandiri maupn kelompok sesuai hasil belajar siswa. e. Guru menumbuhkan rasa ingin tahu siswa agar gemar membaca dengan menyampaikan rencana pembelajaran berikutnya untuk KD berikutnya. E.Alat/Bahan dan Sumber Belajar 1. Alat/Bahan : 1. 1 Laptop/Komputer 1. 2 File bahan ajar 1. 3 LCD 1. 4 Hardisk sebagi media rekam digital, Konektor, Soft ware, Soundcard 1. 5 Mikropone, Mixer Audio, equalizer, Audio Reverb, Tape recorder 1. 6 Pita kaset, CD blank 2. Sumber Belajar: 2.1 Internet http://homerecording.about.com 2.2 Internet www.shure.com 2.3 Internet www.soundonsound.com 2.4 Sri Waluyanti dkk, 2008, Sistem Pembuatan Master dan Rekaman, Direktorat Pembinaan SMK 2.5 Bambang Sumarno HM, 2009, Konversi Dan Kompresi File, Universitas Negeri Yogyakarta F. Penilaian 1. Jelaskan apakah perbedaan antara duplikasi disk dan replikasi disk itu! 2. Jelaskan dengan blok diagram alur proses duplikasi atau penggandaan disk yang anda ketahui! 3. Sebutkan macam-macam alat duplikasi! 4. Sebutkan keuntungan dan kerugian duplikasi! 5. Sebutkan keuntungan dan kerugian replikasi! Tugas mandiri (TM): Cari sumber diinternet tentang proses perekaman sistem analog dan sistem digital! Kunci jawaban 1. a.Duplikasi adalah proses penggandaan CD/DVD melalui proses Burnning pada Disc kosong. Proses ini dilakukan untuk produksi yang relatif sedikit. b.Replikasi merupakan Proses Penggandaan Media Disc (CD/DVD) dengan proses pabrikasi. jadi CD dibuat langsung dari bijih plastik dan tercetak beserta isinya langsung. biasanya CD ini sudah sepaket dengan Print offset pada label nya (bukan disablon atau di tempel kertas label). ciri lain dari CD ini adanya Judul CD pada lingkaran poros kepingan CD. dan kode Barcode kode ISSN dsb. 2. Proses duplikasi sbb:
3. Macam-macam alat duplikasi disk adalah a. duplikasi analog : pita kaset, tape corder, mikropone, mixer, audio mixer,open riel, audio kompresor, speaker monitor. b. duplikasi digital : keping CD blank, konektor, PC (hardware: sound card, soft ware: waveLab dan Sound Forge kalau yang freewarenya Wavosour, Soundengine. 4. Keuntungan dan kerugaian duplikasi sbb: Kelebihan : 1. Bisa dengan kuantitas sedikit 2. Kualitas lebih baik (tergantung Merk CD Blank) 3. tidak harus repot2 ke pabrik bisa dilakukan dirumah Kekurangan : 1. dianggap bajakan 2. kurang elegant 3. kadang berat diputar di Rom jika menggunakan Label kertas 20 5. Keuntungan dan kerugaian replikasi sbb: Kelebihan : 1. lebih Elegant 2. dianggap original 3. lebih murah kekurangan : 1. kualitas kadang kurang baik (tergantung kualitas Bijih plastik dan proses pabrikan) 2. tidak bisa duplikasi dalam jumlah sedikit (minimal 1000pcs) Kudus, januari 2013 Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran Purwanta Agung S, S.Pd, M.M Supriyadi, SPd, M.M

Kamis, 11 Maret 2010

MENU SERVISE TELEVISI

MENU SERVIS TELEVISI
Sekarang hampir semua merk tv menggunakan media remote control untuk mengakses menu servis,baik untuk menyetel ukuran gambar,mengkalibrasi IF ataupun RGB,ataupun untuk menyetting suara dan yang lainnya.Namun untuk setiap merk TV menggunakan kode-kode yang berbeda untuk membuka menu-menu tersebut.
1.TV polytron
a. Dalam keadaan standby,tekan menu di remote beberapa detik sampai televisi menyala dan meminta kode akses
b. tekan kode 1013 atau 1014 untuk dapat membuka menu-menu service yang tersedia
c. Gunakan tombol CH UP dan CH DOWN di remote untuk mengganti kriteria atau gunakan tombol VOL UP atau VOL DOWN di remote untuk mengurangi atau menambah kan.

2. Kode servis TV AKIRA
a. Pada saat TV menyala,tekan tombol AV di remote
b. Lalu tekan tombol Menu,Qview dan mute maka akan keluar menu-menu servis di layar.
c. Gunakan tombol Timer untuk mengganti menu dan tombol VOL UP dan Vol DOWN untuk menambah dan mengurangi.

3. TOSHIBA
TEKAN MUTE DI REMOTE SEKALI,KEMUDIAN TEKAN LAGI DAN TAHAN MUTE + MENU DI TV .ULANGI UNTUK PROSES BERIKUTNYA
TEKAN MENU DIREMOTE-TEKAN ANGKA 4,7,2,5
TEKAN VOL(-) DI TV -TEKAN DAN TAHAN ANGKA 9

4. SANYO : MENU DI REMOTE + VOLUME UP TV

5. LG FLATRO N:
TEKAN OK DIREMOTE + OK DI TV atau MENU REMOTE + MENU DI TV

6. TCL
TEKAN DISPLAY (OSD) DIREMOTE + VOLUME DOWN DI TV ,tahan 3 detik

7. POLYTRON
POSISI TV STNDBY, TEKAN DAN TAHAN MENU DI REMOTE HINGGA TV MENYALA MASUKAN KODE ANGKA 1013.

8. PANASONIC
SHORT (KONEK SESAAT) PIN ‘FA-1′ KE ‘FA-2′ ATAU TP-8 KE GROUND

9. PANASONIC TX SERIES : TEKAN VOL(-) DI TV + OSD

10. SHARP
SHORT KAKI (PIN)6 DAN PIN 7 SESAAT PADA IC MCU (TDA 98XXX).UNTUK KELUAR SHORTKAN KEMBALI

11. SHARP EXPRESSION
HUBUNGKAN ATAU JEPIT DUA KAWAT /JUMPER J800 ( ADA DISEBELAH TUNER ) YG PCB- TELAH DISEDIAKAN LUBANG DAN DUA JUMPER SEJAJAR.

12. CRYSTAL
POSISI TV STNDBY,TEKAN VOLUME UP + VOLIME DOWN PADA TV BERSAMAAN DAN TAHAN HINGA TV ON

13. PHILLIPS : POSISI TV STNDBY,TEKAN 0,6,2,5,9,MENU

14. AKARI : TEKAN SLEEP DI REMOTE + MENU TV

15. SAMSUNG
POSISI STANDBY TEKAN DI REMOTE : MENU – PSTD – MUTE – POWER ON

16. SAMSUNG PLANO
POSISI STANDBY, TEKAN DI REMOTE : DISPLAY-MENU-MUTE-POWER ON

17. SAMSUNG PLANO DIGITAL HD100
STANDBY-DISPLAY-MENU-MUTE-POWER
ATAU : STANDBY-MUTE-1-8-2-POWER ON

18. AKIRA, FUJITEC, BOOMBA
DAN BEBERAPA MEREK CHINA YANG LAINNYA YG MENGGUNAKAN IC PROGRAM TYPE LC8632XX SERIES : TEKAN MENU DI REMOTE DUAKALI – RECALL (Q.VIEW) – MUTE.

19. TV CHINALAINNYA ( KCL,MITOCHIBA,BAZZOMBA)
TEKAN VOLUME DI TV HINGGA NOL.TEKAN RECCAL DI REMOTE SEKALI, TEKAN DAN TAHAN VOLUME ( – ) DI TV BERSAMAAN DENGAN TEKAN KEMBALI RECALL DI REMOTE..ulang proses tersebut untuk masuk ke sub menu selanjutnya sampai ke posisi keluar menu servis.

20. AIWA
TOMBOL MENU SERVISNYA ADA DI DALAM REMOTE DI ATAS TOMBOL VOLUME (+),BONGKAR DAHULU.

21. JVC
TEKAN DAN TAHAN BERSAMAAN OSD+MUTE ATAU TEKAN DAN TAHAN OSD+PICTURE

22. HITACH
TEKAN DAN TAHAN TOMBOL AVDI TV, HIDUPKAN POWER SWITCH TV

23. SONY : STANDBY- OSD – 5 – VOL(-) – POWER ON

24. RCA/THOMSON :
TEKAN DAN TAHAN TOMBOL VT DI TV + POWER SWITCH ON TV

Jumat, 04 Desember 2009

ARTIKEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Peningkatan Kompetensi Mengatasi Masalah Power Suply Tegangan Rendah
dengan Pendekatan Problem Based Learning melalui Media Flowchart
bagi Siswa Kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus
Tahun Pelajaran 2008/2009.

Oleh: Supriyadi*)


ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 dengan jumlah 37 siswa. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan tes hasil belajar, kemudian dianalisis dengan metode analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan problem base learning melalui media flowchart: 1)meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, 2) meningkatkan kompetensi siswa balam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah, 3) mendapat respon yang positif dari siswa karena pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Kata-kata kunci: kompetensi, problem base learning, media flowchart

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada pelaksanaanya pembelajaran praktek mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah yang umum dilakukan guru adalah diskusi informasi dan pendekatan praktek atau penugasan. Pendekatan diskusi informasi yang sering dilakukan guru adalah melalui komunikasi satu arah yang lebih banyak menerima informasi dari guru dari pada berusaha sendiri. Dengan demikian peran siswa dalam pembelajaran kurang aktif dan kurang mendapatkan pengalaman yang bermakna dan timbul beberapa masalah bahwa tidak semua siswa yang mengikuti pembelajaran menguasai kompetensi yang diajarkan.
Pada kenyataannya kegiatan praktek atau penugasan tersebut hanya mampu memberikan data-data yang sangat terbatas. Hal ini terjadi karena: (1) siswa pada umumnya mengalami kesulitan membaca simbol-simbol komponen pada skema televisi, (2) Kurangnya pengalaman belajar siswa dalam kegiatan praktek mereparasi televisi, (3) Kurangnya dukungan dari orang tua, 4) Rendahnya motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu upaya yaitu dengan mengimplementasikan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya KBM yang kondusif dan bermakna. Sebagai alternatif pendekatan pembelajaran tersebut adalah dengan pendekatan problem-base learning melalui media flowchart. Pendekatan ini didesain dengan menkonfrontasikan siswa dengan masalah-masalah faktual yang memadukan teori dan praktek serta lebih terfokus pada perolehan dari pada hasil. Dalam pembelajaran ini, siswa dikelompok menjadi 3-4 orang yang dibagi secara acak. Masing-masing kelompok diberikan tugas untuk mengatasi masalah sesuai dengan gejala kerusakan/gangguan pada power suply. Kemudian masing-masing kelompok diberikan tugas untuk mengumpulkan fakta dan menemukan masalah kerusakan/gangguan, mengalokasi masalah kerusakan, menganalisa masalah kerusakan, dan melaksanakan pemecahan masalah serta menguji coba hasil penyelesaian masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat Polya (1981) dalam I Wayan Santyasa (2008: 8), bahwa pembelajaran problem base learning dijalankan dengan empat langkah yaitu: (1) memahami masalah, (2) menyusun rencana pemecahan, (3) menjalankan rencana pemecahan, (4) menguji kembali penyelesaian yang diperoleh. Hal tersebut diperkuat oleh Dwiyogo (2000) mengemukakan bahwa proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh pembelajar mencakup tahap-tahap memahami masalah, merepresentasi masalah, menentukan model, melakukan kalkulasi, dan meyimpulkan masalah. Adapun media flowchart merupakan media yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar menjadi lebih kongkrit dan hasil pengalaman belajar dapat lebih berarti bagi siswa. Karena dengan media flowchart digambarkan dengan alur suatu proses secara berurutan untuk menganalisis dan mengidentifikasi masalah serta ruang lingkup aktivitas suatu pekerjaan perbaikan, sehingga lebih praktis dan cepat dalam menemukan masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat M Basyiruddin Usman (2002: 11) bahwa media flowchart merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan yang dapat mendorong terjadinya proses belajar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka secara eksplisif terdapat dua permasalahan dalam penelitian ini, yaitu
1. Apakah terjadi peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus?,
2. Apakah terjadi peningkatan aktivitas dan respon siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus ?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatkan kompetensi siswa dan respon siswa dalam pembelajaran mengatasi mengatasi masalah pada power suply tegangan rendah dengan pendekatan problem based learning melalui media flowchart bagi siswa kelas XII Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus tahun pelajaran 2008/2009.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa
a. Dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran guna menambah pengalaman belajar, b.Memperoleh pengalaman belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan dalam menyelesaikan masalah.

2. Bagi guru
a.Dapat dijadikan salah satu alternatif inovasi pembelajaran untuk memperbaiki dan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas, b.Membantu guru secara terus menerus berusaha mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan

3. Bagi lembaga pendidikan
Manfaat penelitian ini diharapkan dapat mendorong sekolah untuk mengembangkan program pembelajaran inovatif dalam upaya pengembangan profesionalisme guru dan meningkatkan kualitas lulusan.

II.LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Landasan Teoritis
1. Pengertian Kompetensi
Kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap.(Depdiknas, 2003:2). Hal ini sejalan denagn pendapat Supratman Zakir (2007), bahwa kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai, sikap dan minat. Berdasarkan pengertian di atas dapat
ditemukan bahwa kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, sikap, ketrampilan, nilai dan minat yang dimiliki oleh peserta didik.

2. Pengertian Pembelajaran
Pengertian pembelajaran dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Sedang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 dijelaskan bahwa pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Berdasar pemikiran di atas maka guru sebagai pendidik harus dapat mengelola kegiatan pembelajaran dengan memberikan peran yang aktif pada siswa selaku peserta didik.

3. Pengertian Motivasi Belajar
Menurut Zaenal Aqib (2002: 50) motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah dan penggerak tingkah laku. Sedang pendapat Slavin (1994) yang dikutip Catharina Tri Ani (2006: 156), bahwa motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, memandu, dan memelihara perilaku seseorang secara terus menerus. Dari beberapa pendapat di atas disimpulkan motivasi adalah proses internal yang dapat mendorong dan mengaktifkan perilaku seseorang dalam menentukan arah untuk berbuat dalam mencapai
tujuan.

4. Pembelajaran Problem-Based Learning (PBL)
Pembelajaran problem based learning (PBL), pada awalnya dirancang untuk program graduate bidang kesehatan oleh Barrows (1988) yang kemudian diadaptasi untuk program akademik kependidikan oleh Stepein Gallager (1993). PBL ini
dikembangkan berdasarkan teori psikologi kognitif modern yang
menyatakan bahwa belajar suatu proses dalam mana pembelajar secara aktif
mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan
belajar yang dirancang oleh fasilitator pembelajaran (Ni Made Suci 2008: 8). Teori yang dikembangkan ini mengandung dua prinsip penting yaitu 1) belajar adalah
suatu proses konstruksi bukan proses menerima (receptive process) 2)
belajar dipengaruhi oleh faktor interaksi social dan sifat kontektual dari
pelajaran (Wim.H.Gisjelairs, 1996). Teori ini mengisyaratkan bahwa dalam
pembelajaran terdapat proses konstruksi pengetahuan oleh pembelajar,
terjadi interaksi social baik antar mahasiswa maupun dosen serta materi
perkuliahan yang bersifat kontektual. Model pembelajaran berbasis masalah memiliki sejumlah karateristik yang membedakannya dengan model pembelajaran yang lainnya yaitu 1) pembelajaran bersifat student centered, 2) pembelajaran terjadi pada kelompok-kelompok kecil, 3)guru berperan sebagai fasilitator
dan moderator, 4) masalah menjadi fokus dan merupakan sarana untuk
mengembangkan ketrampilan problem solving, 5) informasi-informasi baru
diperoleh dari belajar mandiri (self directed learning).
Pengertian Flowchart
Menurut Basyiruddin Usman (2002: 36) bahwa media flowchart merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan kemauan yang dapat mendorong terjadinya proses belajar. Hal tersebut diperkuat oleh Dexter A. Hansen (1985) dalam Kawentar (2006: 256), Flow chart adalah penyajian bentuk grafik dan semua pergerakan operasinya berurutan, menyajikan langkah suatu proses untuk menganalisis, mengidentifikasi masalah, dan ruang lingkup aktivitas dari suatu proses. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa flowchart adalah media pembelajaran yang berbentuk grafis yang digambarkan dengan alur suatu proses secara berurutan untuk menganalisis, mengidentifikasi masalah, dan ruang lingkup aktivitas suatu pekerjaan sebagai pemandu siswa.
5. Kerangka Berfikir Teoritis
Dari uraian di atas juga memberikan gambaran bahwa pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat memberikan kemudahan belajar bagi siswa. Siswa tidak lagi kesulitan didalam menemukan masalah kerusakan mengalokasi masalah kerusakan, menganalisa masalah kerusakan, dan melaksanakan pemecahan masalah, tetapi sebaliknya secara mudah siswa memperoleh gambaran riil dalam menentukan dan menemukan masalah secara cepat, tepat dan efisien waktu. Akibatnya siswa akan belajar dalam suasana nyaman penuh dengan suka cita dan interaktif. Dengan suasana belajar yang menyenangkan dan interaktif akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan, menantang, memotivasi siswa lebih aktif dan kreatif serta reflektif, baik secara kelompok maupun secara individu dalam memecahkan masalah, sehingga rendahnya penguasaan kompetensi, rendahnya motivasi belajar siswa dan sikap kurang percaya diri yang sementara ini merupakan kendala dapat dicegah dan diatasi.
Berdasarkan kerangka berpikir dan kenyataan hasil penelitian di atas, maka semakin memberikan keyakinan bahwa pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat meningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah di SMK Muhammadiyah Kudus tahun pelajaran 2008/2009.

B. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka befikir di atas, dapat dikemukakan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut: “Pendekatan problem based learning melalui media flowchart, “dapat” meningkatan kompetensi siswa dan respon (tanggapan) siswa kelas XII Teknik Audio Video SMK Muhammadiyah Kudus “berubah” ke arah yang positif “

III. METODE PENELITIAN

A. Seting Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Kudus pada tanggal 28 Maret 2009 siklus I dan tanggal 4 April 2009 siklus II.

B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah kelas XII AV-1 SMK Muhammadiyah Kudus Kabupaten Kudus tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 37 siswa dengan pertimbangan bahwa kelas tersebut memilki persentase ketuntasan belajar dan motivasi belajar rendah

C. Variable Penelitian.
Variabel penelitian ini ada dua, yaitu peningkatan kompetensi mengatasi masalah power suply tegangan rendah sebagai variable terikat dan pendekatan problem base learning melalui media flowchart sebagai variable bebas.

D. Teknik Pengumpulan Data
Guna mencapai data yang lengkap dan memadai, maka dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode nontes dan metode

a. Metode Tes
Metode tes dan hasil unjuk kerja siswa digunakan untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah kelas XII AV-1 pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009.

b. Metode Nontes
Teknik nontes dalam penelitian ini meliputi metode observasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan dokumentasi.

c. Teknik Analisis Data.
Data tes dan non tes setelah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis kuantitatif dan teknik analisis kualitatif dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Data kuantitatif diperoleh dari penilaian unjuk kerja siswa (teori/ praktek), baik yang terdapat pada siklus I dan siklus II.
2. Data kualitatif yang diperoleh dari observasi, wawancara, jurnal siswa, catatan guru dan dokumentasi, kemudian data tersebut selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk mendiskripsikan keberhasilan penggunakan pendekatan problem base learning melalui media flowchart.

5.Indikator Kinerja
Individu atau siswa dinyatakan tuntas/kompeten, apabila hasil belajar siswa mencapai nilai ≥ 7,50; maka dinyatakan “tuntas/kompeten”. Sedangkan keberhasilan klasikal, apabila jumlah siswa yang mencapai nilai 7,50 ≥ 70 %, dinyatakan “berhasil”.

6. Prosedur Penelitian
Prosedur PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus yaitu: (1) merencanakan, (2) melakukan tindakan, (3) melakukan pengamatan dan (4) merefleksikan hasil pengamatan (observasi).
Adapun diskripsi pelaksanaan penelitian tindakan adalah sebagai berikut:
SIKLUS I
a. Perencanaan
Dalam perencanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I ini, peneliti melakukan serangkaian kegiatan, antara lain sebagai
1. Menganalisis kondisi awal siswa pada kompetensi dasar sebelumnya.
2. Membuat RPP, membuat job sheet dan lembar laporan unjuk kerja siswa.
3. Menyiapkan perangkat instrumen non tes dan tes.
b. Tindakan
Pelaksanaan tindakan siklus I dilakukan pada 28 Maret 2008 dan siklus II pada tanggal 4 April 2009 dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart. Adapun langkah-langkah yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Menerangkan kerangka materi dan tujuan pembelajaran .
2. Menjelaskan langkah kerja dengan media flowchart.
3. Membagi kelompok dengan anggota 3-4 orang.
4. Membagikan skema TV, lembar job sheet dan lembar laporan hasil kerja.
5. Menanyakan permasalahan/kesulitan dalam kegiatan praktek.
6. Melakukan penilaian unjuk kerja siswa.
7. Mengolah data tes dan non tes.

c. Observasi.
Terhadap tindakan kelas pada siklus I, guru melakukan mengamatan atau observasi secara cermat, intensif dan berkelanjutan. Data-data yang diamati sebagai berikut
1. Aktivitas dan perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, dengan lembar observasi yang telah dipersiapkan,
2. Penilaian dari hasil pelaksanaan pembelajaran dan, kesan balikan yang terjadi atau diberikan oleh siswa melalui jurnal siswa.

d. Refleksi tindakan
Akhirnya berdasarkan pada peren-canaan, tindakan yang dilakukan dan hasil pengamatan pada siklus I, peneliti mengulas secara kritis terhadap perubahan-perubahan pada aktivitas pembelajaran siswa yang terjadi. Adapun aspek-aspek perubahan yang dianalisis, adalah aktivitas perilaku dan hasil belajar siswa, suasana pembelajaran di kelas , dan ketuntasan belajar siswa terhadap materi pembelajaran.

Siklus II
Pada siklus II ini, penelitian tindakan kelas dilaksanakan dengan langkah-langkah yang hampir sama dengan siklus I. Untuk lebih meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa serta respon siswa berubah yang positif, maka ada beberapa aspek yang diperbaiki, disempurnakan dan dipertajam.

E. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
Hasil Tes pada Siklus I dan siklus II
Hasil evaluasi pembelajaran tes dan unjuk kerja pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil belajar siswa pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dengan pendekatan PBL melaui media flowchart

Siklus ke Rata-2 Prosentase ∑ siswa mencapai nilai ≥7.5 Prosentase nilai ≥7.5
Awal7,4 74 % 20 54 %
I 7,6 76 % 24 64,9 %
II 8,1 81 % 36 97,3 %

Hasil Nontes pada Siklus I dan siklus II
Tabel 2 : Hasil observasi pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3.0 61 3.9 78
Kategori Cukup Baik

Tabel 3 : Haisl jurnal siswa pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut

No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3,4 61 4,2 84
Kategori Baik Sangat baik

Tabel 4: Hasil wawancara pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut
No Aspek Penilaian Siklus I Siklus II
Rata-2 nilai % Rata-2 nilai %
Rata-2 3.2 63 4.1 82
Kategori Baik Sangat baik

Tabel 5: Catatan (jurnal) guru pada materi mengatasai masalah power suply tegangan rendah dapat diklasifikasikan sebagai berikut

Siklus I
1).Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah/masih lambat 2).Perilaku siswa dalam menanggapi/menyampaikan pertanyaan atau ide masih rendah dan masih didominasi peran guru.3)Respon siswa masih rendah dan masih banyak warna yang didominasi peran guru.4)Suasana pembelajaran berlangsung tertib dan menyenangkan, tetapi kemampuan memprediksi dalam menganalisa masalah kerusakan televisi masih rendah. 5)Media flowchart belum secara maximal dapat meningkatan kompetensi siswa

Siklus II
1)Siswa lebih aktif, dan guru berperan sebagai fasilitator. 2)Siswa sudah berani menanggapi/menyampaikan pertanyaan atau ide dan guru berperan sebagai motivator 3)Respon siswa sangat antusias dan senang, guru berperan sebagai fasilitator.4)Suasana pembelajaran berlangsung lebih aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan , guru berperan sebagai fasilitator. 5)Media flowchart telah dapat meningkatan kompetensi siswa

F. Pembahasan
Hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang dilakukan penulis melalui tindakan pada siklus I dan siklus II, baik berupa data yang diperoleh dari data hasil tes maupun nontes, setelah dilakukan analisis selanjutnya perlu pembahasan sebagai berikut.
Berdasarkan analisis hasil tes teori(30%) dan hasil unjuk kerja praktek (70%) adalah sebagai berikut: (1) Nilai rata-rata hasil meningkat sebesar 2 % dari kondisi awal ke siklus I, dan 5 % dari siklus I ke siklus II (2) Jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 7,5 kondisi awal 46% atau 17 siswa, siklus I 64,9% atau 24 siswa dan siklus II sebesar 97,3% atau 36 siswa. Dengan demikian terdapat peningkatan jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 7,50 sebesar 18,9% dari kondisi awal ke siklus I dan 32,4 % dari siklus I ke siklus II, (3) Jumlah siswa pada kondisi awal yang nilainya kurang dari 7,49 sebanyak 20 siswa (54%), pada siklus I sebanyak 13 siswa (35,1%), dan pada siklus II jumlah siswa yang nilainya kurang dari 7,49 sebanyak 1 siswa (2,7%).
Berdasarkan hasil observasi terhadap aktifitas belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 17 %. Sedang aktivitas belajar siswa ada perubahan tingkah laku dari cukup berubah menjadi baik. Dengan demikian, aktivitas belajar siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melaui media flowchart dapat memberikan respon yang positip.
Berdasarkan hasil jurnal siswa terdapat adanya peningkatan aktifitas siswa sebesar 23 %, sedang perubahan tingkah laku terjadi perubahan yaitu baik menjadi sangat baik. Dengan demikian, respon/tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melaui media flowchart dapat memberikan respon yang positip.
Berdasarkan hasil wawancara terjadi perubahan aktivitas sebesar 19%, sedang perubahan tingkah laku terjadi perubahan yaitu baik menjadi sangat baik. Hal ini memberikan gambaran bahwa pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart memberikan respon ke arah yang lebih positf.
Gambaran-gambaran tersebut juga dapat dilihat dari rekaman foto sebagai beriku
























































Berdasarkan gambar-gambar di atas, menunjukan bahwa aktivitas pembelajaran berlangsung dalam suasana yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Proses pembelajaran seperti keadaan tersebut adalah pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), yaitu PAKEM: pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Dari hasil catatan guru pada siklus I diperoleh gambaran sebagai berikut: (1) aktivitas siswa dalam proses pembelajaran masih rendah/masih lambat, , (2) Perilaku siswa dalam menanggapi dan menyampaikan pertanyaan atau ide masih rendah, (3) respon siswa dalam pembelajaran masih rendah dan masih banyak warna yang didominasi peran guru, (4) Suasana pembelajaran berlangsung tertib dan menyenangkan, tetapi kemampuan memprediksi dalam menganalisa masalah kerusakan televisi masih rendah,. (5) Penerapan PBL melaui media flowchart belum menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa secara signifikan. Sedang hasil catatan guru/jurnal guru pada siklus II diperoleh gambaran sebagai berikut: (1) Siswa lebih aktif, guru berperan sebagai fasilitator (2) Siswa belajar secara mandiri dan berdiskusi dalam kelompok dan guru berperan sebagai motivator. (3) Respon siswa sangat antusias dan senang (4) Suasana pembelajaran berlangsung lebih aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan serta telah ada peningkatan kemampuan mengaplikasikan pengetahuan dalam memprediksi/menganalisa masalah kerusakan televisi. (5) Penerapan PBL melaui media flowchart telah menunjukkan peningkatan kompetensi/hasil belajar.
Dengan kenyataan hasil yang dicapai dari penelitian bahwa lebih dari 70 % kelompok mencapai skor minimal 7.5, maka pembelajara dikatakan berkualitas. Hal ini sesuai dengan Mulyasa (2004:101) bahwa proses pembelajaran dikatakan berkualitas dapat pula dilihat dari segi hasil, yaitu sekurang kurangnya 70 % siswa tuntas belajar.
Dari uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa peningkatan aktivitas dan kompetensi hasil belajar siswa mengatasi masalah power suply tegangan rendah ”dapat” dilakukan dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart.
Hal ini sangat mungkin karena pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart memberikan kegiatan-kegiatan :
1. pembelajaran lebih bermakma karena siswa mendapatkan pengalaman langsung yang bermanfaat bagi dirinya.
2. pembelajaran lebih demokratis dengan menciptakan komunikasi terbuka sehingga siswa dapat saling berdiskusi dan bertukar pengalaman dalam kelompoknya.
3. Pembelajaran dilakukan dengan penyajian baru (Novelty), yaitu dengan menampilkan media flowchart, sehingga siswa tidak merasa bosan dan lebih menyenangkan.
4. Pembelajaran dilakukan dengan memberikan latihan/praktek yang aktif dan bermanfaat, sehingga membimbing siswa untuk dapat melakukan pemecahan masalah yang sebenarnya.
5. Pembelajaran dilakukan dengan mewujudkan suasanan belajar menyenangkan sehingga siswa termotivasi dan memiliki minat yang tinggi untuk meraih hasil belajar yang maksimal.

IV. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan kondisi pelaksanaan tindakan maka dapat diformulasikan beberapa simpulan sebagai berikut.
Pertama, pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart dapat meningkatkan aktivitas belajar sebesar 17 % dan peningkatan hasil belajar sebesar 32,4 %.
Kedua, pembelajaran dengan pendekatan problem base learning melalui media flowchart mendapat respon (tanggapan) yang positif dari siswa.
Saran
Berdasarkan hasil yang dicapai dari penelitian ini, maka pembelajaran mengatasi masalah power suply tegangan rendah sebaiknya dilakukan secara dinamis dengan pendekaatan problem base learning (PBL) melaui media flowchart, sehingga menumbuhkan aktivitas belajar yang tinggi. Demikian pula agar pembelajaran berlangsung secara interaktif dan mandiri pada siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Ani Catharina Tri, Ahmad Rifa’I, Edi Purwanto, Daniel Purnomo, 2006, Psikologi Belajar, Semarang, Unnes Press

Aqib Zaenal, 2002, Profesional Guru dalam Pembelajaran, Surabaya, Insan Cendikia

Depdiknas, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 2004, Kurikulum SMK Edisi 2004, Bidang Keahlian Teknik Elektronika, Program Keahlian Teknik Audio Video. Departemen Pendidikan Nasional

Depdiknas, 2003, Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Elektronika Maintenance & Repair (M&R) , Departemen Pendidikan Nasional.

Kawentar, 2006, Penerapan Pembelajaran Elaborasi untuk Meningkatkan Ketrampilan dalam Membuat Flowchart, PTK, Tidak diterbitkan

Made Suci Ni. 2008, Penerapan Model Problem Base Learning untuk Meningkatan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Teori Akuntasi Mahasiswa Jurusan Ekonomi Undiksha, www.freewebs.com diunduh 16 April 2009

Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya.

Permendiknas No. 41, 2007, Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, BSNP

Santyasa I Wayan, 2008, Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Kooperatif, www.freeweb.com diunduh 30 Marte 2009

Warmada I Wayan, 2004, Problem-Based Learning (PBL) berbasis Teknologi Informasi (ICT), www.indomedia.com diunduh 30 Mar 2009

Zakir Supratman, 2006, Strategi Pengembangan Komptensi Siswa dengan Manajemen Berbasis Sekolah, http//: fortip.org, diunduh 16 April 2009